admin

MBG untuk 3T dan Stunting Tinggi Bukti Negara Hadir di Wilayah Paling Membutuhkan

Oleh: Dhita Karuniawati )* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memasuki tahap penting dalam memperluas jangkauan manfaat kepada masyarakat yang paling membutuhkan. Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan penataan kembali sasaran penerima dengan mengeluarkan 1.653 satuan pendidikan dari daftar penerima manfaat dan mengarahkan kapasitas program ke wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), serta daerah dengan tingkat stunting…

Read More

MBG Makin Adil bagi Wilayah 3T dan Stunting Tinggi

*) Oleh : Gavin Asadit Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus diperkuat agar manfaatnya semakin merata dan tepat sasaran. Pemerintah kini mempertajam prioritas dengan memberikan perhatian lebih besar kepada wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), serta daerah yang memiliki angka stunting tinggi. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memastikan program MBG benar-benar menjangkau masyarakat yang…

Read More

MBG Diarahkan Lebih Tepat Sasaran untuk Wilayah 3T dan Stunting Tinggi

Jakarta – Badan Gizi Nasional (BGN) memperkuat arah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan memprioritaskan satuan pendidikan di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), serta daerah dengan prevalensi stunting tinggi. Kebijakan ini menunjukkan bahwa ekspansi MBG tidak semata mengejar perluasan cakupan, tetapi diarahkan untuk menjangkau kelompok yang paling membutuhkan intervensi gizi. Pemerintah juga memastikan perluasan…

Read More

Pemerintah Prioritaskan MBG ke Wilayah 3T dan Daerah Stunting Tinggi

Jakarta – Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) terus memperluas cakupan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan memprioritaskan wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) serta daerah yang memiliki angka stunting tinggi. Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memastikan pemerataan akses gizi bagi peserta didik sekaligus mempercepat penurunan stunting di berbagai daerah. Kepala BGN,…

Read More

Ekonomi Multilateral: Menjadi Indonesia yang Tidak Mudah Didikte Kekuatan Global

Oleh : Rahmat Hidayat )* Di tengah perubahan konstelasi geopolitik dan ekonomi dunia, Indonesia menghadapi tantangan sekaligus peluang untuk memperkuat posisi sebagai negara yang memiliki kemandirian dalam menentukan arah pembangunan. Persaingan kekuatan besar, fragmentasi perdagangan, perubahan rantai pasok, serta penggunaan kebijakan ekonomi sebagai instrumen geopolitik membuat negara-negara berkembang tidak cukup hanya menjadi pasar atau penerima…

Read More

Ekonomi Multilateral Menjadi Jalan Baru Memperkuat Kedaulatan Nasional

Oleh : Abdul Razak)* Indonesia terus memperkuat peran dalam kerja sama ekonomi multilateral di tengah perubahan lanskap global yang ditandai meningkatnya ketegangan perdagangan, fragmentasi ekonomi, gangguan rantai pasok, serta ketidakpastian kebijakan. Pemerintah melihat keterlibatan aktif dalam berbagai forum internasional sebagai bagian dari strategi memperluas pilihan kerja sama sekaligus memperkuat posisi tawar dan kedaulatan ekonomi nasional. Presiden Prabowo…

Read More

Ekonomi Multilateral Diperkuat, Indonesia Dorong Tata Kelola Global yang Inklusif

JAKARTA — Indonesia mendorong penguatan kerja sama ekonomi multilateral dan reformasi tata kelola global agar lebih inklusif serta mampu mengakomodasi kepentingan negara berkembang. Dorongan tersebut disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-18 di New Delhi, India. Prabowo menghadiri hari pertama KTT BRICS 2026 di Bharat Mandapam, Sabtu (12/9/2026). Pertemuan yang berada…

Read More

Pemerintah Dorong Sistem Perdagangan Multilateral yang Terbuka dan Berbasis Aturan

Jakarta – Pemerintah Indonesia terus mendorong penguatan sistem perdagangan multilateral yang terbuka, inklusif, transparan, dan berbasis aturan sebagai upaya menciptakan perdagangan global yang lebih adil sekaligus memberikan ruang bagi negara berkembang untuk tumbuh. Komitmen tersebut kembali ditegaskan Indonesia dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-18 di New Delhi, India, 12–13 September 2026. Presiden Prabowo Subianto…

Read More

Pengawasan Ketat Sekolah Rakyat  Cara Pemerintah Melindungi Masa Depan Anak Rentan

Oleh : Radjiman Arif*) Sekolah Rakyat merupakan salah satu kebijakan pemerintah yang menempatkan pendidikansebagai instrumen untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Karena peserta didiknyaberasal dari keluarga miskin dan miskin ekstrem, perhatian negara tidak boleh berhenti pada penerimaan siswa atau penyediaan ruang belajar. Pengawasan yang ketat menjadi bagianpenting untuk memastikan anak-anak memperoleh lingkungan pendidikan yang aman, sehat, disiplin, dan mendukung perkembangan mereka. Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menegaskan bahwa kepala Sekolah Rakyat memiliki tanggung jawab besar karena sekolah menerapkan sistem berasrama. Ia memintaseluruh siswa diawasi secara penuh selama 24 jam, tanpa kompromi. Pengawasan tersebutdiarahkan untuk mencegah perundungan, kekerasan seksual, dan intoleransi sekaligusmemastikan setiap anak memperoleh pendampingan yang memadai. Menurut Gus Ipul, pengawasan harus berjalan bersama kepatuhan terhadap prosedur dan kolaborasi, sehinggakepala sekolah tidak bekerja sendiri dalam menjaga keselamatan dan perkembangan pesertadidik. Pesan tersebut semakin relevan karena pada 7 September 2026 Gus Ipul kembali memintakepala Sekolah Rakyat memperketat pengawasan terhadap kondisi sekolah, mulai darikebersihan lingkungan, pemeliharaan fasilitas, hingga administrasi dan keuangan. Ia juga menekankan pentingnya laporan mengenai kondisi kesehatan, perkembangan mental, dan latar belakang siswa. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah berupaya membangunpengawasan yang tidak hanya bersifat reaktif ketika masalah muncul, tetapi dilakukan secararutin dan menyeluruh. Dalam konteks itu, pengawasan juga perlu dilihat sebagai mekanisme perlindungan hak anak. Anggota Ombudsman RI Nuzran Joher menilai tata kelola Sekolah Rakyat perlu terusdiperbaiki agar pelayanan publik berjalan sesuai standar dan terhindar dari potensimaladministrasi. Ombudsman sebelumnya menyampaikan tujuh saran perbaikan kepadaKementerian Sosial terkait regulasi dan tata kelola. Dalam pemantauan pada Mei 2026, Nuzran menyampaikan bahwa proses perbaikan tersebut telah dijalankan secara substansialoleh Kemensos. Nuzran juga menegaskan komitmen Ombudsman untuk memperkuat pengawasan di lapangan. Ombudsman dan Kemensos sepakat membangun kerja sama yang lebih erat, termasuk mendorong 34 perwakilan Ombudsman ikut mengawal penyelenggaraan SekolahRakyat di daerah. Bagi program yang masih terus berkembang, keterlibatan lembagapengawas menjadi modal penting agar evaluasi tidak dianggap sebagai kritik terhadapkebijakan, melainkan sebagai instrumen untuk memperbaiki kualitas layanan dan memastikan hak masyarakat miskin terhadap pendidikan dasar benar-benar terpenuhi. Pendekatan pengawasan tersebut sejalan dengan perspektif hak asasi manusia yang dikedepankan Kementerian HAM. Wakil Menteri HAM Mugiyanto menegaskan bahwanegara hadir untuk memastikan anak-anak dari keluarga kurang mampu dapat belajar dalamkondisi aman dan bermartabat. Saat memonitor Sekolah Rakyat Terintegrasi 45 Kota Semarang, ia berinteraksi langsung dengan siswa untuk mengetahui kenyamanan, rasa aman, dan kondisi belajar mereka. Pemerintah tidak hanya melihat sekolah sebagai bangunan, tetapisebagai ruang yang harus menjamin hak anak untuk tumbuh dan berkembang. Mugiyanto juga menekankan bahwa pemenuhan hak pendidikan tidak dapat dipisahkan darihak kesehatan. Hasil monitoring di Semarang menunjukkan penyediaan asrama dan makanantelah berjalan cukup baik, tetapi masih ditemukan kebutuhan untuk memperkuat saranakesehatan dan cakupan jaminan kesehatan bagi sebagian siswa. Temuan tersebut kemudianditempatkan sebagai bahan evaluasi dan tindak lanjut lintas kementerian serta pemerintahdaerah….

Read More

Merawat Sekolah Rakyat dengan Integritas

Oleh : Catur Ronggo*) Sekolah Rakyat merupakan kebijakan sosial yang menempatkan pendidikan sebagaiinstrumen penting untuk memutus rantai kemiskinan. Karena menyasar anak-anak darikeluarga miskin dan miskin ekstrem, keberhasilan program ini tidak cukup diukur daribertambahnya jumlah sekolah atau peserta didik. Integritas pengelolaan, kualitas layanan, ketepatan sasaran, serta perlindungan terhadap siswa menjadi fondasi yang menentukanapakah kebijakan tersebut benar-benar menghadirkan mobilitas sosial bagi generasiberikutnya. Dalam konteks itu, pesan Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul kepada para kepalaSekolah Rakyat menjadi sangat relevan. Ia menekankan bahwa kepemimpinan sekolah harusdibangun di atas empati dan integritas. Sekolah Rakyat tidak hanya bertugas memberikanpembelajaran akademik, tetapi juga membentuk karakter, kepedulian sosial, dan lingkunganyang aman bagi siswa dengan latar belakang beragam. Menurut Gus Ipul, pengelolaansekolah berasrama harus ditopang tata kelola yang baik, termasuk prosedur penangananaduan yang jelas dan tidak dilakukan secara improvisasi. Pesan tersebut semakin penting karena pada September 2026 Sekolah Rakyat memasuki faseoperasional yang membutuhkan pengawasan konsisten. Gus Ipul kembali mengingatkankepala sekolah agar mengawasi kondisi siswa, kebersihan lingkungan, pemeliharaan fasilitas, serta administrasi dan keuangan. Pengawasan kuat diperlukan untuk mencegah perundungan, kekerasan seksual, intoleransi, maupun persoalan lain yang dapat mengganggu tujuanpendidikan. Dengan demikian, integritas bukan sekadar prinsip administratif, melainkanbagian dari perlindungan terhadap masa depan peserta didik. Arah tersebut sejalan dengan perkembangan program yang semakin menekankankeberlanjutan. Pemerintah hingga Agustus 2026 telah membuka 93 Sekolah Rakyat permanen dan, bersama sekolah rintisan, jumlahnya mencapai 182 satuan pendidikan. Program ini dirancang sebagai sekolah berasrama bagi anak dari keluarga yang berada dalamkondisi ekonomi paling rentan, dengan fasilitas pendidikan, tempat tinggal, makanan bergizi, dan pendampingan. Presiden Prabowo Subianto menempatkannya sebagai intervensi negara agar kemiskinan orang tua tidak otomatis diwariskan kepada anak. Penguatan integritas juga membutuhkan pengawasan dari luar institusi pemerintah. AnggotaOmbudsman RI Nuzran Joher menunjukkan bahwa pengawasan tidak harus diposisikansebagai hambatan, melainkan instrumen untuk memastikan program berjalan semakin baik. Dalam evaluasinya bersama Kementerian Sosial, Nuzran menyampaikan bahwa tujuh saran perbaikan terkait regulasi dan tata kelola telah dijalankan secara substantif. Kemensos juga menerima delapan catatan untuk diperbaiki secara bertahap. Ombudsman kemudianmendorong pengawasan teknis yang lebih dekat di lapangan, termasuk melalui perwakilanOmbudsman di berbagai daerah. Langkah tersebut memperlihatkan bahwa pemerintah membuka ruang koreksi terhadapprogram prioritas. Bagi kebijakan publik berskala nasional, mekanisme seperti inimemperkuat kepercayaan masyarakat karena penyelenggaraan tidak berhenti pada pembangunan fisik, tetapi terus dievaluasi dari sisi pelayanan dan potensi maladministrasi. Integritas tumbuh ketika terdapat transparansi, akuntabilitas, pengawasan, dan kesediaanmemperbaiki kekurangan berdasarkan temuan lapangan. Di sisi lain, ketepatan sasaran menjadi bagian penting dari integritas kebijakan. Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman menjelaskan bahwa penentuan lokasi Sekolah Rakyat dilakukan dengan mempertimbangkan tingkat kemiskinan, termasuk kelompok desil satu dan dua serta wilayah yang memiliki anak berpotensi putus sekolah. Pendekatan berbasis data tersebut membuat pembangunan sekolah diarahkan kepada wilayah yang paling membutuhkan, bukan semata-mata daerah yang memiliki akses infrastruktur lebih mudah. Menurut Dudung, kolaborasi lintas kementerian dan pemerintah daerah menjadi kuncipenyelesaian pembangunan Sekolah Rakyat. Sekolah juga tidak hanya menyediakan aksespendidikan, tetapi membangun karakter, kemandirian, pemenuhan gizi, serta pembinaanmental siswa. Kerangka ini menunjukkan bahwa Sekolah Rakyat dirancang sebagaiintervensi yang menyentuh berbagai kebutuhan anak secara terpadu. Perkembangan terbaru memperlihatkan orientasi program semakin diarahkan pada masa depan lulusan. Gus Ipul menegaskan bahwa pemerintah menyiapkan dua jalur setelahpendidikan menengah, yakni melanjutkan kuliah atau menjadi pekerja terampil. Artinya, Sekolah Rakyat tidak boleh berhenti pada keberhasilan menerima siswa dari keluarga rentan, tetapi harus memastikan mereka memiliki kemampuan untuk berdiri mandiri dan keluar darilingkaran kemiskinan. Konsistensi ini juga penting untuk menjaga kepercayaan orang tua dan masyarakat. Ketika sekolah dikelola secara disiplin, kebutuhan siswa dipenuhi, dan setiap laporan ditanganisecara profesional, manfaat program akan semakin mudah dirasakan. Pada saat yang sama, keberhasilan lulusan menjadi ukuran paling nyata bahwa investasi negara melalui SekolahRakyat benar-benar menghasilkan perubahan sosial yang berkelanjutan bagi keluargapenerima manfaat. Merawat Sekolah Rakyat dengan integritas berarti menjaga seluruh rantai kebijakan, mulaidari penentuan sasaran, pengelolaan sekolah, perlindungan siswa, penggunaan anggaran, pengawasan, hingga kesiapan lulusan memasuki jenjang pendidikan atau dunia kerja. Pemerintah telah membangun fondasi melalui kebijakan, regulasi, pengawasan, dan kolaborasi lintas sektor. Tantangan berikutnya adalah memastikan fondasi tersebut konsistenditerapkan di setiap sekolah. Dengan tata kelola yang bersih, kepemimpinan yang berempati, dan pengawasan yang terbuka, Sekolah Rakyat dapat menjadi bukti bahwa negara hadirbukan sekadar menyediakan pendidikan gratis, tetapi sungguh-sungguh membuka jalan bagianak-anak kurang mampu untuk meraih masa depan yang lebih baik. *) Penulis merupakan Pengamat Sosial

Read More