Waspada Provokasi, Jangan Biarkan Demonstrasi Anarkis Merusak Persatuan Bangsa

Oleh: Shalima Raharja *) Momentum akhir Agustus kembali memperlihatkan satu ujian penting bagi kedewasaan demokrasi Indonesia, bagaimana masyarakat dapat menyampaikan perbedaan dan aspirasi tanpa kehilangan persatuan. Di tengah beredarnya berbagai seruan aksi, informasi di media sosial, hingga narasi yang berpotensi memancing emosi publik, kemampuan masyarakat menjaga ketenangan menjadi semakin penting. Demokrasi membutuhkan kritik, tetapi demokrasi yang…

Read More

Waspada Provokasi Demonstrasi, Kawal RUU Perampasan Aset secara Bermartabat

Oleh: Antonio Bagas Sidarta *) Pemberantasan korupsi dan upaya menjaga persatuan nasional tidak seharusnya ditempatkan sebagai dua pilihan yang saling berlawanan. Masyarakat dapat mendukung penuh percepatan pembahasan RancanganUndang-Undang Perampasan Aset, sekaligus menolak segala bentuk provokasi, ancaman, dan tindakananarkistis yang mengatasnamakan aspirasi publik. Menjelang rencana demonstrasi Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) pada 27 Agustus 2026, kedewasaan semacam inilah yang justru dibutuhkan dalamkehidupan demokrasi Indonesia. RUU Perampasan Aset membawa semangat penting dalam memperkuat pemberantasan korupsi. Dukunganmasyarakat terhadap agenda tersebut tentu merupakan energi positif yang harus didengar pemerintah dan DPR. Namun, tujuan yang baik tidak serta-merta membenarkan setiap metode untuk mencapainya. Ketika muncul narasi yang mengarah pada aksi provokatif nan berisiko anarkis, substansi pemberantasan korupsiberisiko tenggelam oleh kontroversi mengenai cara penyampaian aspirasi. Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) telah mengambil posisi yang menarik dalamkonteks tersebut. Ketua Umum PP KAMMI Muhammad Amri Akbar pada dasarnya membedakan secarategas antara substansi tuntutan dengan metode memperjuangkannya. KAMMI tetap mendukung agenda pemberantasan korupsi, termasuk mendorong pengesahan RUU Perampasan Aset. Namun, organisasimahasiswa tersebut menolak apabila aspirasi berkembang menjadi narasi konfrontatif, tindakan koersif, ancaman terhadap pejabat publik, ataupun tindakan yang berpotensi mengganggu persatuan nasional. Sikap tersebut memperlihatkan bahwa menolak provokasi demonstrasi bukan berarti menolak kritik. Justrumasyarakat yang memiliki komitmen terhadap demokrasi harus menjadi kelompok pertama yang menjagaagar kritik tidak dibajak menjadi kekacauan. Kebebasan menyampaikan pendapat memang dijamin dalamkehidupan demokratis, tetapi kebebasan selalu berjalan beriringan dengan tanggung jawab menghormatihukum, hak masyarakat lainnya, serta kepentingan umum. Pandangan serupa terlihat dari sikap pemerintah daerah. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anungmempersilakan masyarakat menyampaikan aspirasi pada 27 Agustus. Namun, ia mengingatkan agar aksitidak diwarnai perusakan fasilitas publik, anarkisme, maupun tindakan lain yang mengganggu keamanan. Pemerintah daerah juga memilih pendekatan humanis dengan melakukan koordinasi untuk memastikan hakmenyampaikan pendapat tetap dapat berjalan tanpa mengorbankan ketertiban masyarakat. Sekretaris Daerah Jawa Tengah Sumarno juga menempatkan persoalan secara proporsional. PemerintahProvinsi Jawa Tengah tidak mempersoalkan aspirasi mengenai RUU Perampasan Aset karena penyampaianpendapat merupakan hak masyarakat. Namun, masyarakat yang bertolak ke Jakarta diingatkan untuk tetapmenjaga kondusivitas serta menyampaikan aspirasi sesuai ketentuan perundang-undangan. Di sisi lain, Ketua Umum Bamus Betawi Eki Pitung mengingatkan bahwa pengerahan massa bukan satu-satunya jalan memperjuangkan RUU Perampasan Aset. Aspirasi dapat disampaikan melalui perwakilan dan audiensi dengan DPR. Pandangan tersebut patut dipertimbangkan karena pembentukan undang-undang pada akhirnya berlangsung melalui proses legislasi yang membutuhkan pembahasan pasal demi pasal, kajianhukum, masukan masyarakat, dan dialog antarpemangku kepentingan. Dengan demikian, dukungan terhadap RUU Perampasan Aset justru perlu ditingkatkan dari sekadarmobilisasi menjadi partisipasi substantif. Akademisi, mahasiswa, organisasi masyarakat sipil, praktisihukum, hingga masyarakat daerah dapat menyampaikan kajian, mengawasi perkembangan pembahasan, mengikuti forum dengar pendapat, serta memastikan substansi aturan yang dihasilkan benar-benar efektifmengejar aset hasil kejahatan sekaligus memiliki kepastian hukum. Kewaspadaan terhadap provokasi menjadi sangat penting. Mobilisasi publik dapat menjadi salurandemokrasi, tetapi situasi yang melibatkan massa dalam jumlah besar juga berpotensi dimanfaatkan pihakyang membawa agenda berbeda dari tuntutan awal. Informasi yang beredar perlu diverifikasi, sementaraseruan bernada ancaman dan kekerasan sebaiknya tidak diperkuat. Jangan sampai agenda besarpemberantasan korupsi justru kehilangan legitimasi karena diasosiasikan dengan tindakan yang bertentangandengan demokrasi itu sendiri. KAMMI juga mengingatkan bahwa pada saat bersamaan terdapat masyarakat di sejumlah wilayah yang membutuhkan solidaritas akibat bencana, termasuk gempa di Nusa Tenggara Timur serta kebakaran hutandan lahan di Kalimantan. Energi sosial bangsa tidak semestinya habis dalam pertentangan. Perjuanganantikorupsi dapat terus berjalan tanpa menghilangkan kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan dan kebutuhan menjaga persatuan. Pemerintah dan DPR tentu memiliki tanggung jawab yang tidak kalah besar. Ruang partisipasi dalampembahasan RUU Perampasan Aset perlu terus dibuka sehingga masyarakat memperoleh saluran yang efektif untuk menyampaikan aspirasi. Di sisi lain, publik juga perlu memahami bahwa pembentukanundang-undang yang kuat membutuhkan ketelitian.  RUU Perampasan Aset bukan hanya harus memiliki semangat tegas terhadap korupsi, tetapi juga perludisusun dengan dasar hukum yang kokoh, mekanisme yang jelas, serta perlindungan terhadap prinsipkeadilan dan kepastian hukum. Pengawalan masyarakat sebaiknya diarahkan pada substansi atas bagaimanaaset hasil tindak pidana dapat dirampas secara efektif, bagaimana celah hukum ditutup,…

Read More

Jaga Kondusivitas Papua dengan Menolak Provokasi Demo Anarkis

Oleh : Yohanes Wandikbo )* Papua membutuhkan suasana yang aman dan kondusif agar masyarakat dapat menjalankan aktivitas sehari-hari, sementara pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan dapat melanjutkan pembangunan secara berkelanjutan. Karena itu, setiap upaya yang berpotensi memicu kerusuhan, kekerasan, maupun konflik sosial perlu dihindari. Penyampaian aspirasi merupakan bagian penting dalam kehidupan demokratis, tetapi harus dilakukan secara damai, tertib, dan…

Read More

Bukan Pemblokiran Sepihak: Penundaan Rekening Warga Pati Prosedur Resmi Cegah TPPU

Oleh: Solehuddin Rasyid *) Dinamika informasi di era digital kerap melahirkan salah kaprah yang cepat memicu ketegangan publik. Salah satu contoh mutakhir adalah kesalahpahaman terkait status rekening milik Koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu, Supriyono, yang menampung dana donasi masyarakat. Narasi yang beredar di media sosial terlanjur mengecap bahwa pihak perbankan telah melakukan pemblokiran secara sepihak…

Read More

MBG di Daerah 3T Menjadi Bukti Negara Hadir untuk Anak Bangsa

Oleh: Catur Ronggo*) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sedang memasuki fase penting: memperkuatpemerataan manfaat hingga wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Bagi Indonesia, keberhasilan program ini tidak cukup diukur dari banyaknya porsi yang tersalurkan, tetapidari kemampuan negara menjangkau kelompok yang selama ini menghadapi hambatangeografis dan akses layanan. Ketika prioritas mulai diarahkan ke daerah dengan persoalangizi dan stunting tinggi, MBG bergerak dari sekadar program bantuan pangan menjadiinstrumen pembangunan manusia. Sekretaris Dewan Pembina PSI Grace Natalie menilai penegasan Presiden Prabowo Subianto mengenai kelanjutan MBG harus diterjemahkan melalui pemerataan. Menurut Grace, anakyang berada di wilayah dengan persoalan stunting paling berat semestinya memperolehperhatian lebih dahulu. Pandangan ini penting karena keadilan program publik bukan berartisemua daerah diperlakukan secara identik, melainkan setiap wilayah mendapatkan dukungansesuai tingkat kebutuhannya.  Data mengenai sebaran layanan menunjukkan tantangan tersebut masih nyata. Grace menyoroti bahwa lima wilayah dengan prevalensi stunting tertinggi, yakni Papua Pegunungan, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat, Papua Tengah, dan Papua Barat Daya, memiliki jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang belum mencapai dua persen dari sekitar 28 ribu SPPG secara nasional. Kondisi ini memperlihatkan bahwaekspansi MBG memang perlu lebih agresif diarahkan ke lokasi yang paling membutuhkan. Di sinilah pendekatan pemerintah melalui MBG 3B menjadi relevan. Menteri Kependudukandan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji memperluas perhatian kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, termasuk masyarakat adat Baduy di Kabupaten Lebak. MenurutWihaji, ketiadaan sekolah formal di suatu wilayah tidak boleh membuat kelompok rentankehilangan hak atas pemenuhan gizi. Pemerintah perlu hadir dengan cara yang sesuaikarakter masyarakat setempat, termasuk melalui pendekatan budaya. Peran Kemendukbangga/BKKBN dalam distribusi juga menunjukkan bahwa MBG tidakdirancang sebagai kebijakan yang bekerja sendiri. Pendamping keluarga memiliki posisipenting untuk memastikan sasaran 3B teridentifikasi dan bantuan dapat disalurkan secaratepat. Pola tersebut memperlihatkan upaya pemerintah menghubungkan kebijakan pangan, kesehatan keluarga, pencegahan stunting, dan pembangunan kualitas manusia dalam saturangkaian intervensi. Tantangan geografis kemudian dijawab dengan penyesuaian mekanisme. Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Muhammad Qodari menjelaskan bahwa pemerintah menyiapkanskema khusus bagi wilayah 3T karena karakter geografis dan kepadatan penduduknyaberbeda dari wilayah perkotaan. Skema SPPG konvensional tidak selalu dapat diterapkansecara sama di daerah terpencil, sehingga pemerintah mengkaji alternatif pelayanan, termasuk pemanfaatan fasilitas yang sudah tersedia. Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa negara tidak sekadar memperluas angka cakupan, tetapi juga mencoba menyesuaikan desain program dengan realitas lapangan. Daerah denganjarak tempuh panjang, jumlah penduduk rendah, dan keterbatasan infrastruktur memangmembutuhkan model distribusi yang berbeda. Fleksibilitas menjadi syarat agar prinsippemerataan tidak berhenti sebagai slogan. Perubahan arah itu semakin terlihat dari langkah Badan Gizi Nasional. Kepala BGN Sudaryono menyampaikan bahwa pemerintah sedang menyisir sekitar 13 ribu titik dapurMBG…

Read More

Percepatan MBG 3T Wujud Keadilan Gizi dari Pusat hingga Pelosok

Oleh : Radjiman Arif*) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) semakin menunjukkan arah kebijakan yang tidakhanya berorientasi pada perluasan cakupan, tetapi juga pemerataan manfaat hingga wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Percepatan layanan di Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua menjadi bukti bahwa pemerintah menempatkan pemenuhan gizi sebagai bagianpenting dari agenda pembangunan sumber daya manusia. Dalam konteks geografis Indonesia yang sangat beragam, menghadirkan layanan dasar hingga pelosok merupakan tantangansekaligus ukuran nyata kehadiran negara. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan bahwa percepatan SatuanPelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah 3T merupakan keputusan pemerintah yang mencakup seluruh NTT, Maluku, dan enam provinsi di Papua. Saat meninjau kesiapan SPPG di Kabupaten Sikka, NTT, ia menekankan bahwa keterbatasan geografis tidak boleh menjadialasan untuk menurunkan kualitas MBG. Standar menu dan kandungan gizi harus tetapdipertahankan sehingga anak-anak di daerah terpencil memperoleh manfaat yang setaradengan penerima di wilayah lainnya. Penegasan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak sekadar mengejar jumlah penerimamanfaat. Percepatan juga dibarengi dengan penataan pelaksanaan agar SPPG di wilayah terpencil mampu beroperasi sesuai standar. Saat ini, sekitar 62,6 juta penerima manfaat telahdilayani melalui 27.485 SPPG, dengan dukungan 134.881 pemasok lokal yang terdiri atasUMKM, BUMDes, koperasi, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, serta pemasok lainnya. Di wilayah 3T sendiri, pemerintah menata 1.703 SPPG, sementara 170 SPPG di NTT telahtervalidasi siap beroperasi. Percepatan tersebut memiliki urgensi tersendiri bagi daerah yang masih menghadapipersoalan gizi. Data yang disampaikan pemerintah menunjukkan prevalensi stunting NTT berdasarkan SSGI 2024 mencapai 37 persen. Karena itu, perluasan MBG ke daerah prioritasdapat ditempatkan sebagai investasi jangka panjang untuk memperbaiki kualitas generasimendatang. Intervensi gizi yang dilakukan secara konsisten sejak usia sekolah berpotensimemperkuat kemampuan belajar, kesehatan, dan produktivitas anak ketika memasuki usiadewasa. Komitmen pemerintah pusat juga terlihat dari perhatian Wakil Presiden Gibran RakabumingRaka terhadap pelaksanaan MBG di Asmat,…

Read More

Pemerintah Prioritaskan MBG untuk Daerah 3T dan Kelompok Rentan

Jakarta – Pemerintah memprioritaskan percepatan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), termasuk wilayah dengan tingkat kerawanan gizi tinggi. Langkah tersebut dilakukan melalui penataan dan percepatan operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di sejumlah wilayah prioritas. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengatakan pemerintah telah menetapkan seluruh wilayah…

Read More

Pemerintah Pastikan MBG di Daerah 3T Tetap Penuhi Standar Gizi

Jakarta – Pemerintah memastikan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) terus diperkuat dengan tetap mengutamakan kecukupan gizi, keamanan pangan, dan kualitas makanan bagi penerima manfaat. Kondisi geografis dan tantangan distribusi menjadi perhatian agar masyarakat di wilayah 3T tetap memperoleh manfaat program secara optimal. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN),…

Read More

Swasembada Pangan Tercapai Lebih Cepat dari Target

Oleh: Syarif Ahmad *) Keberhasilan Indonesia meraih kembali kemandirian pangan dalam waktu yang relatif singkat menjadi bukti nyata dari komitmen kuat pemerintah dalam mewujudkan kedaulatan nasional yang berdikari. Momentum peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia terasa kian bermakna dengan hadirnya kado kebangkitan sektor pertanian nasional. Target awal pencapaian swasembada yang semula dirancang memakan…

Read More

Swasembada Pangan Multi Komoditas, Sinyal Kuat Indonesia Makin Mandiri

Oleh: Demas Pranata *) Keberhasilan Indonesia meraih status swasembada pangan untuk berbagai komoditas strategis menandai tonggak sejarah baru dalam memperkokoh kedaulatan ekonomi nasional. Dalam pidato kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR RI, Presiden Prabowo Subianto menegaskan keberhasilan negara mencapai swasembada pada delapan komoditas pangan utama di tengah himpitan krisis geopolitik global dan tantangan perubahan iklim El…

Read More