El Nino Picu Kekeringan, Pemerintah Perkuat Distribusi Air Bersih

JAKARTA – Pemerintah memperkuat penanganan dampak El Nino dan musim kemarau yang menyebabkan keterbatasan sumber air di sejumlah wilayah. Upaya dilakukan melalui percepatan distribusi air bersih, pemantauan kondisi sumber air, serta koordinasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi. Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan kesiapan pemerintah menghadapi potensi dampak El Nino….

Read More

Pemerintah Salurkan Air Bersih Hadapi El Nino dan Kekeringan

Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terus memperkuat penanganan dampak El Nino dan kekeringan dengan menyalurkan air bersih kepada masyarakat yang membutuhkan. Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi sekaligus menjaga ketersediaan air bagi sektor pertanian. Upaya tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menegaskan kesiapan…

Read More

APBN On Track Menunjukkan Disiplin Fiskal Pemerintah

*) Oleh: Nadia Anggraini Kusuma Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi, kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Agustus 2026 memberikan gambaran mengenai bagaimana pemerintah menjaga keseimbangan antara ekspansi ekonomi dan disiplin fiskal. APBN tidak sekadar menjadi instrumen pembiayaan program pemerintah, tetapi juga berfungsi sebagai penyangga ketika perekonomian menghadapi tekanan eksternal. Karena itu,…

Read More

APBN On Track Bukti Pemerintah Serius Menjaga Kredibilitas Fiskal

Oleh: Dwi Saputri)* Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang tetap on trackhingga Agustus 2026 menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam menjaga kredibilitas fiskal nasional. Hal ini tercermin dari keseimbangan primer yang tetap positif, defisit yang terkendali, serta kinerja pendapatan dan belanja negara yang tetap terjaga. Kondisi tersebut menunjukkan APBN tetap dikelola secara hati-hati di tengah…

Read More

APBN On Track, Pemerintah Komitmen Jalankan Fiskal Sesuai Undang-Undang

Jakarta – Pemerintah memastikan pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 terus berjalan sesuai arah kebijakan yang telah ditetapkan dan tetap berada dalam koridor peraturan perundang-undangan. Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan bahwa perkembangan APBN hingga akhir Agustus 2026 menunjukkan kinerja yang relatif sesuai dengan arah yang telah direncanakan pemerintah. “Perjalanan APBN-nya relatively on track,”…

Read More

Pemerintah Pastikan APBN On Track dengan Defisit Tetap Terkendali

Jakarta — Pemerintah memastikan pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Agustus 2026 masih berada dalam jalur yang sesuai target atau on track. Kondisi tersebut tercermin dari defisit anggaran yang tetap terkendali meski perekonomian global menghadapi tekanan akibat kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) dan ketidakpastian geopolitik. Menteri Keuangan Suahasil…

Read More

Rumah Subsidi di Kawasan Industri, Mengurangi Biaya Transportasi HarianPekerja

Oleh: Citra Kurnia Khudori)* Pertumbuhan kawasan industri membawa peluang kerja yang semakin luas, tetapipada saat yang sama menghadirkan kebutuhan baru terhadap hunian yang terjangkau dan berada dalam jangkauan pekerja. Bagi pekerja berpenghasilanrendah, jarak antara rumah dan tempat kerja dapat menentukan besarnyapengeluaran rutin yang harus disiapkan setiap bulan. Selama ini, persoalan perumahan sering dipandang terutama dari sisi kemampuanmembeli atau membayar cicilan rumah. Padahal, keterjangkauan hunian juga berkaitan erat dengan ongkos perjalanan, waktu tempuh, akses terhadap fasilitasdasar, dan energi yang dikeluarkan pekerja setiap hari. Gagasan menghadirkan rumah subsidi di sekitar kawasan industri karena itumemiliki relevansi yang kuat dengan kebutuhan masyarakat pekerja. Hunian yang lebih dekat dapat membantu mengurangi ketergantungan pada perjalanan jarak jauhsekaligus membuat pengeluaran rumah tangga lebih terukur. Deputi Komisioner Bidang Pemanfaatan Dana BP Tapera Sid Herdi Kusuma menjelaskan bahwa pemerintah tengah mendorong kolaborasi dengan pengelolakawasan industri, pengembang, dan perbankan untuk mendekatkan hunian kepadalokasi kerja. Menurut Sid, kebutuhan tenaga kerja di kawasan industri dan Kawasan Ekonomi Khusus akan terus berkembang sehingga penyediaan tempat tinggal bagipekerja perlu dipersiapkan secara strategis. Sid juga menyebut pekerja berpenghasilan rendah di sektor manufaktur sebagaisalah satu kelompok yang dapat memperoleh manfaat fasilitas likuiditas pembiayaanperumahan atau FLPP. Integrasi lokasi hunian dengan kawasan kerja diharapkanmampu menekan biaya transportasi harian sekaligus mendukung produktivitastenaga kerja. Kedekatan hunian dengan kawasan industri juga berpotensi mengurangi waktuperjalanan yang selama ini menjadi bagian dari beban pekerja. Waktu yang lebihsingkat di perjalanan dapat memberikan ruang lebih besar bagi keluarga, istirahat, maupun kegiatan sosial masyarakat. Program rumah subsidi kemudian perlu dilihat sebagai bagian dari ekosistempembangunan kawasan. Penyediaan jalan, transportasi umum, fasilitas kesehatan, sekolah, ruang terbuka, dan pusat layanan dasar perlu dipertimbangkan agar kawasan hunian benar-benar berfungsi sebagai lingkungan kehidupan. Kebijakan pembiayaan juga menjadi faktor penting karena harga rumah bukan satu-satunya pertimbangan bagi masyarakat berpenghasilan rendah. BP Taperamenyediakan skema KPR subsidi dengan uang muka mulai 1 persen, suku bungatetap 5 persen hingga lunas, serta tenor hingga 40 tahun dalam skema yang diberitakan September 2026. Namun, kemudahan pembiayaan perlu berjalan bersama ketepatan lokasi dan kualitas rumah. Masyarakat akan lebih terbantu apabila rumah yang terjangkausecara finansial juga berada pada kawasan yang memiliki akses memadai terhadappekerjaan dan kebutuhan sehari-hari. Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait atau Ara menempatkan percepatan penyaluran rumah subsidi sebagai agenda yang membutuhkan kerja bersama seluruh ekosistem perumahan. Ia mendorongpercepatan realisasi FLPP dengan target 350.000 unit rumah subsidi pada 2026 melalui penguatan kolaborasi antara pemerintah, BP Tapera, perbankan, dan pengembang. Data BP Tapera menunjukkan realisasi penyaluran FLPP mencapai 147.871 unithingga 10 September 2026, dari target 350.000 unit pada tahun ini. Angka tersebutmemperlihatkan bahwa masih terdapat ruang yang cukup besar untuk mempercepatpenyaluran kepada masyarakat yang memenuhi kriteria penerima. Ara juga menekankan pentingnya kolaborasi dalam memperluas akses masyarakatterhadap hunian. Pendekatan ekosistem membuat program perumahan dapatmempertemukan kebutuhan masyarakat, kapasitas pengembang, pembiayaanperbankan, serta dukungan pemerintah dalam satu rangkaian kebijakan. Sementara itu, Komisioner BP Tapera Heru Pudyo Nugroho menyebut penguatansinergi dengan bank penyalur dan pengembang sebagai bagian dari upayamempercepat penyaluran rumah subsidi. Menurut Heru, koordinasi tersebutdiperlukan agar pembiayaan dapat berjalan optimal sekaligus memastikan rumahyang tersedia sesuai dengan kebutuhan masyarakat berpenghasilan rendah. Heru juga menjelaskan bahwa pemerintah membuka pilihan pembiayaan dengantenor hingga maksimal 40 tahun untuk meningkatkan keterjangkauan bagimasyarakat berpenghasilan rendah. Pilihan tersebut dapat memberi ruang bagicalon penerima untuk menyesuaikan cicilan dengan kemampuan keuangan rumahtangga. Kehadiran rumah susun subsidi juga dapat menjadi pilihan yang relevan bagipekerja perkotaan yang menghadapi keterbatasan lahan. BP Tapera mencatatbahwa skema FLPP pada 2026 mencakup rumah tapak dan rumah susun sehinggapilihan hunian dapat disesuaikan dengan karakter wilayah dan kebutuhanmasyarakat. Konsep hunian dekat kawasan industri perlu dikembangkan dengan perencanaanyang matang agar tidak menciptakan kawasan permukiman yang terpisah darifasilitas publik. Transportasi umum, akses jalan, drainase, air bersih, sanitasi, dan ruang publik perlu hadir sejak awal perencanaan kawasan. Dengan pendekatan seperti itu, rumah subsidi dapat berfungsi lebih luas sebagaibagian dari strategi meningkatkan kualitas hidup pekerja. Penghematan biayaperjalanan dapat membantu rumah tangga mengalokasikan pendapatan untukkebutuhan pangan, pendidikan, kesehatan, tabungan, dan kebutuhan produktiflainnya….

Read More

Rumah Subsidi di Kawasan Industri Membuktikan Negara Hadir untuk Pekerja

Oleh : Aditya Anggara )* Pembangunan kawasan industri selama ini menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan pekerjaan, meningkatkan aktivitas investasi, sekaligus menciptakan pusat-pusat ekonomi baru di berbagai daerah. Namun, pertumbuhan kawasan industri juga membawa kebutuhan baru yang tidak kalah penting, yakni tersedianya hunian layak dan terjangkau bagi para pekerja. Karena itu, kebijakan menghadirkan…

Read More

Pemerintah Integrasikan Rumah Subsidi dengan Pusat Industri Nasional

Jakarta – Pemerintah terus mendorong penyediaan rumah subsidi yang lebih dekat dengan pusat kegiatan ekonomi, khususnya kawasan industri yang menjadi lokasi utama penyerapan tenaga kerja. Integrasi hunian dengan kawasan industri dinilai penting agar pekerja tidak hanya mendapatkan akses kepemilikan rumah, tetapi juga memiliki tempat tinggal yang lebih dekat dengan lokasi kerja. Komitmen tersebut salah satunya…

Read More

Rumah Subsidi Disiapkan di Kawasan Industri untuk Kesejahteraan Pekerja

Jakarta – Penyediaan rumah subsidi bagi pekerja di kawasan industri terus didorong sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan sekaligus mendekatkan hunian dengan lokasi kerja. Deputi Komisioner Bidang Pemanfaatan Dana BP Tapera, Sid Herdi Kusuma, mengatakan perkembangan kawasan industri turut meningkatkan kebutuhan tenaga kerja sehingga penyediaan hunian yang terjangkau bagi pekerja menjadi salah satu aspek penting…

Read More