Sistem Penilaian MBG: Pemerintah Serius Membenahi Kualitas Layanan

Oleh: Nadira Citra Maheswari)* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus memasuki tahap penguatan tata kelola seiring dengan semakin luasnya cakupan penerima manfaat. Perluasan layanan tersebut diikuti pengawasan agar penyediaan makanan tidak hanya memenuhi aspek kuantitas, tetapi juga memperhatikan mutu, keamanan pangan, ketepatan waktu, serta kesesuaian dengan standar gizi. Salah satu langkah yang dikembangkan Badan Gizi Nasional…

Read More

Penilaian MBG Berbasis Aplikasi Disiapkan untuk Awasi Dapur SPPG

Jakarta – Kepala Badan Gizi Nasional, Sudaryono, mengatakan BGN tengah menyiapkan aplikasi khusus yang memungkinkan kepala sekolah memberikan penilaian terhadap kualitas layanan Makan Bergizi Gratis (MBG) dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Melalui aplikasi tersebut, kepala sekolah nantinya dapat memberikan rating berupa bintang sekaligus catatan mengenai pelayanan dapur SPPG. Mekanisme ini dibuat menyerupai sistem…

Read More

Pemerintah Dorong Penilaian MBG agar Kualitas Menu dan Distribusi Terpantau

Jakarta- Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) mendorong penguatan pengawasan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan menyiapkan sistem penilaian berbasis aplikasi bagi sekolah penerima layanan. Sistem tersebut dirancang agar kualitas makanan, ketepatan distribusi, serta pelayanan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dapat dipantau secara langsung dan menjadi bahan evaluasi. Kepala BGN Sudaryono menjelaskan, aplikasi tersebut nantinya…

Read More

Kolaborasi Akademisi, Industri, dan Pemerintah Menjadi Kunci Keberhasilan Energi E50

Oleh: Bara Winatha*) Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan agar Indonesia memperkuat kemandirian energi melalui optimalisasi sumber daya domestik dan pengembangan energi berbasis bahan baku dalam negeri. Salah satu agenda yang mulai dipersiapkan adalah pengembangan bahan bakar bensin dengan campuran bioetanol 50 persen atau E50. Program tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM sekaligus mendorong…

Read More

Setelah B50, E50 Menjadi Tahap Baru Menuju Kemandirian Energi Indonesia

Oleh: Alexander Royce*) Di tengah dinamika geopolitik global yang kian tidak menentu dan ancaman krisis energi yang membayangi banyak negara, Indonesia justru mengambil langkah kuda yang begitu visioner. Ketergantungan pada bahan bakar minyak fosil impor selama berdekade-dekade telah menjadi beban struktural bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Namun, narasi pesimisme itu kini dipatahkan secara meyakinkan. Kesuksesan…

Read More

Pemerintah Siapkan E50 sebagai Bagian dari Strategi Ketahanan Energi

Jakarta – Pemerintah menyiapkan pengembangan bahan bakar minyak (BBM) berbasis etanol hingga E50 sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional. Kebijakan tersebut diarahkan untuk meningkatkan pemanfaatan sumber energi domestik dan memperkuat ketersediaan BBM di dalam negeri. Arahan itu disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Dewan Energi Nasional (DEN) di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta. Pemerintah…

Read More

Prabowo Dorong E50 untuk Perkuat Kemandirian Energi Nasional

JAKARTA – Pemerintah mulai menyiapkan pengembangan bahan bakar bensin campuran bioetanol 50 persen atau E50 sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional. Arahan tersebut disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Dewan Energi Nasional (DEN) di Istana Merdeka. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, pengembangan E50 akan disusun dengan…

Read More

Korupsi Merugikan Negara, RUU Perampasan Aset Mengembalikan Hak Rakyat

Oleh : Jonathan Janoel*) Korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi juga persoalan mengenai hakpublik atas sumber daya negara. Ketika uang atau aset yang semestinya digunakanuntuk pembangunan berpindah menjadi keuntungan pribadi melalui tindak pidana, kerugiannya tidak berhenti pada nilai material. Dampaknya dapat terasa pada kualitas layanan, pembangunan, dan kepercayaan masyarakat. Dalam konteks itu, pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset kembalimenjadi perhatian karena instrumen hukum tersebut diarahkan untuk memperkuatpemulihan aset hasil kejahatan. Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad memastikan bahwa aset hasil tindak pidanakorupsi tetap menjadi bagian yang diatur dalam RUU Perampasan Aset. MenurutDasco, ketentuan dalam rancangan sebelumnya masih perlu disesuaikan denganKUHP dan KUHAP yang baru disahkan. Penyesuaian tersebut penting agar aturanbaru tidak berjalan sendiri, melainkan memiliki keterkaitan yang jelas dengan sistemhukum pidana yang berlaku. Kepastian mengenai sasaran terhadap aset hasil korupsi memberikan gambaranbahwa pembahasan RUU tidak semata berorientasi pada penghukuman pelaku. Ada dimensi pemulihan yang sama pentingnya, yakni memastikan hasil tindak pidanatidak tetap berada dalam penguasaan pihak yang memperolehnya secara melawanhukum. Pendekatan tersebut menempatkan aset sebagai bagian penting daristrategi pemberantasan korupsi. Namun, efektivitas perampasan aset juga bergantung pada kualitas norma dan mekanisme pengawasan. Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman menekankanperlunya kehati-hatian agar kewenangan yang diberikan melalui undang-undangtidak membuka ruang penyalahgunaan. Ia mengingatkan bahwa pembentukundang-undang perlu memperhitungkan integritas aparat yang nantinyamenjalankan kewenangan tersebut, sekaligus memastikan adanya mekanismepengawasan dan perlindungan yang memadai. Pandangan tersebut menjadi penting karena kekuatan sebuah regulasi tidak hanyaditentukan oleh luasnya kewenangan, tetapi juga oleh batas, prosedur, dan kontrolterhadap kewenangan tersebut. Dalam pembahasan terbaru, Komisi III juga menyerap masukan akademisi, mahasiswa, praktisi, serta masyarakat melalui rapatdengar pendapat umum dan kunjungan ke sejumlah daerah. Proses itumenunjukkan bahwa percepatan pembahasan tetap perlu berjalan bersamapartisipasi publik agar aturan yang dihasilkan memiliki kepastian hukum. Dari perspektif masyarakat sipil, Kepala Divisi dan Investigasi Indonesia Corruption Watch (ICW) Wana Alamsyah menyoroti kebutuhan memperkuat substansi RUU. Ia mendorong agar ketentuan mengenai kekayaan yang tidak wajar, mekanismeperampasan tanpa pemidanaan, serta kelembagaan pengelola aset dirumuskansecara jelas. Menurut Wana, transparansi draf dan Daftar Inventarisasi Masalah juga diperlukan agar publik dapat menguji substansi rancangan secara terbuka. Masukan tersebut dapat ditempatkan sebagai bagian dari proses penyempurnaan. Perampasan aset akan memiliki daya guna lebih kuat apabila objek yang dapatdirampas, standar pembuktian, prosedur penyitaan, mekanisme keberatan, hinggatata kelola aset hasil rampasan memiliki dasar yang terang. Dengan demikian, tujuan mengembalikan aset hasil kejahatan dapat berjalan beriringan dengankepastian hukum dan perlindungan terhadap hak warga. Perkembangan terbaru juga menunjukkan bahwa pembahasan mulai menyentuhpersoalan pemanfaatan aset untuk kepentingan masyarakat. Habiburokhmanmenyampaikan adanya usulan agar aset hasil tindak pidana yang telah menjadisekolah, pesantren, atau rumah sakit tetap menjalankan fungsi sosialnya setelahberada dalam penguasaan negara. Gagasan tersebut memperlihatkan bahwapemulihan aset tidak harus berakhir pada pengosongan manfaat sosial, melainkandapat diarahkan agar fasilitas yang dibutuhkan masyarakat tetap berfungsi. Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra menyampaikan bahwa pemerintah dan DPR memiliki target yang sama untuk menyelesaikan RUU Perampasan Aset pada akhir2026. Yusril juga menyebut Presiden Prabowo Subianto telah meminta menteriteknis yang terlibat agar bekerja cepat dalam proses pembahasan. Target tersebutmemberi batas waktu yang jelas sekaligus menempatkan penyelesaian regulasisebagai pekerjaan legislasi yang perlu dikerjakan secara terukur. Di sinilah ukuran keberhasilan kebijakan tidak hanya berada pada seberapa cepatundang-undang disahkan, tetapi juga pada seberapa jelas aturan itu dapatditerapkan. Publik membutuhkan kepastian bahwa aset yang benar-benar berasaldari tindak pidana dapat dipulihkan, sementara aset yang sah tetap memperolehperlindungan. Karena itu, harmonisasi dengan KUHP dan KUHAP, keterbukaanpembahasan, serta pengawasan terhadap pelaksanaan menjadi unsur yang tidakdapat dipisahkan. Jika seluruh unsur tersebut dirumuskan secara proporsional, RUU Perampasan Aset dapat menjadi instrumen pemulihan yang bekerja tidak hanyasetelah kejahatan terjadi, tetapi juga mempersempit keuntungan ekonomi yang menjadi daya tarik tindak pidana korupsi. Dengan demikian, RUU Perampasan Aset berada pada titik penting antarakebutuhan memperkuat pemberantasan kejahatan dan kewajiban menjagakepastian hukum. Korupsi memang merugikan negara, tetapi pemulihan tidak cukupberhenti pada vonis terhadap pelaku. Aset hasil kejahatan perlu ditelusuri, dirampasberdasarkan prosedur hukum, dikelola secara akuntabel, dan sejauh memungkinkandikembalikan manfaatnya kepada masyarakat. Konsistensi pemerintah dan…

Read More

Mengapresiasi Capaian Pangan Prabowo-Gibran, Merawat Stabilitas dan Menolak Provokasi

Oleh Arga Septian )* Menjelang dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, sektor pangan menjadi salah satu bidang yang mendapat perhatian publik. Bukan semata karena pangan merupakan kebutuhan paling mendasar, tetapi juga karena dalam periode ini pemerintah menempatkan kemandirian pangan sebagai salah satu fondasi pembangunan nasional. Arah itu terlihat dari…

Read More

Pemerintah Perkuat Agenda Penyelesaian Kasus HAM, Masyarakat Jangan Terjebak Provokasi

Oleh: Arief Nugroho* Masyarakat perlu melihat berbagai persoalan hak asasi manusia secara jernih dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi, terutama narasi yang berpotensi memperbesar ketegangan di tengah masyarakat. Penyelesaian persoalan HAM membutuhkan ketenangan, keterbukaan, dan kerja bersama yang berkelanjutan. Pemerintah terus melakukan berbagai langkah untuk memperkuat penyelesaian persoalan HAM melalui evaluasi kebijakan, penguatan…

Read More