IJTI Tekankan Literasi Digital sebagai Fondasi Resiliensi Media

Jakarta – Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) menilai penguatan literasi digital masyarakat menjadi salah satu kunci dalam membangun resiliensi media di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi. Kemampuan masyarakat dalam memilah dan memverifikasi informasi dinilai semakin penting untuk mencegah penyebaran hoaks, misinformasi, dan disinformasi di ruang digital. Wakil Ketua Umum Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Pusat,…

Read More

Resiliensi Media Jadi Pilar Pertahanan Semesta di Tengah Ancaman Hoaks dan Disinformasi

Jakarta – Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat membawa perubahan besar terhadap ekosistem informasi. Di satu sisi, kemajuan tersebut membuka akses informasi yang semakin luas bagi masyarakat. Namun di sisi lain, banjir informasi juga memunculkan ancaman serius berupa hoaks, misinformasi, disinformasi hingga konten manipulatif berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang berpotensi mengganggu stabilitas sosial dan…

Read More

Resiliensi Media Perkuat Peran Jurnalisme Profesional di Era Digital

Jakarta – Perkembangan Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, media arus utama dituntut tetap menjadi rujukan informasi yang akurat, kredibel, dan terpercaya. Resiliensi media menjadi faktor penting untuk memastikan masyarakat memperoleh informasi yang telah melalui proses verifikasi, sekaligus menjadi penyeimbang di tengah derasnya arus informasi di ruang digital. Wakil Ketua Umum Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia…

Read More

Resiliensi Media Untuk Pertahanan Semesta

Oleh: Adhitya Ramadani)* Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, terutama sejak media sosial menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari. Kemudahan mengakses informasi kini diiringi dengan kemampuan setiap individu untuk memproduksi sekaligus menyebarluaskan informasi kepada publik. Kondisi tersebut menciptakan lanskap komunikasi yang jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu ketika arus informasi masih…

Read More

Kolaborasi Lintas Instansi Perkuat Tata Kelola PenyaluranBBM Subsidi di Sumatra

Oleh: Khansa Putri )* Penguatan tata kelola penyaluran bahan bakar minyak (BBM) subsiditerus dilakukan di berbagai wilayah Sumatra melalui kolaborasi antara PT Pertamina Patra Niaga, pemerintah daerah, aparat terkait, dan pemangkukepentingan lainnya. Sinergi lintas instansi menjadi langkah penting untukmemastikan subsidi energi disalurkan secara tepat sasaran, menjagaketersediaan pasokan, sekaligus meningkatkan kualitas pelayanankepada masyarakat. Komitmen penguatan tata kelola tersebut diwujudkan melalui inspeksimendadak di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kota Palembang, Kabupaten Banyuasin, dan Ogan Ilir yang dilakukan PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumatra Bagian Selatan (Sumbagsel) bersama Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan. Kegiatan itu difokuskanpada pengawasan penyaluran BBM subsidi agar berjalan sesuaiketentuan sekaligus memastikan masyarakat memperoleh layanan yang optimal. Pengawasan juga dilaksanakan secara bersamaan di wilayah KabupatenOgan Komering Ilir (OKI). Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagselbersama Pemerintah Kabupaten OKI melakukan peninjauan ke SPBU di kawasan Kayuagung untuk memastikan stok BBM tetap tersedia, pelayanan berlangsung lancar, serta distribusi BBM subsidi dilakukansesuai mekanisme yang berlaku. Rangkaian inspeksi lapangan tidak hanya memeriksa ketersediaanpasokan, tetapi juga mengevaluasi kualitas pelayanan di SPBU dan pelaksanaan Program Subsidi Tepat. Tim gabungan meninjau proses verifikasi konsumen menggunakan sistem yang telah diterapkan sebagaibagian dari upaya memastikan subsidi energi benar-benar diterima oleh masyarakat yang berhak. Gubernur Sumatra Selatan, Herman Deru, menilai pengawasan langsungdi lapangan memiliki peran penting dalam memastikan distribusi BBM subsidi berjalan sesuai ketentuan sekaligus mengurangi peluangterjadinya penyalahgunaan. Berdasarkan hasil pemantauan, kondisi di sejumlah SPBU mulai menunjukkan perbaikan setelah dilakukanpenyesuaian dalam pengaturan penyaluran. Antrean kendaraan yang sebelumnya cukup panjang mulai berkurang di berbagai lokasi. Walaupun masih terdapat kepadatan di beberapa SPBU yang melayani kendaraan keluar maupun masuk Kota Palembang, situasisecara umum dinilai semakin terkendali dibandingkan sebelumnya. Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan juga telah memetakan sejumlahSPBU yang memerlukan optimalisasi jam operasional. Langkah itudilakukan dengan mendorong beberapa SPBU beroperasi selama 24 jam agar distribusi BBM dapat mengakomodasi kebutuhan masyarakat secaralebih merata. Pertamina turut menyatakan kesiapan melakukanpenyesuaian penyaluran sesuai kebutuhan dan ketentuan yang berlakusehingga pasokan tetap terjaga. Herman Deru menjelaskan bahwa berbagai langkah yang telah disepakatibersama mulai menunjukkan hasil positif. Aktivitas penyalahgunaan BBM subsidi dilaporkan mengalami penurunan, meskipun pengawasan tetapakan diperkuat agar perbaikan yang telah dicapai dapat dipertahankan. Ia juga mengajak masyarakat berpartisipasi aktif dengan melaporkan apabilamenemukan dugaan penyalahgunaan BBM subsidi sehingga dapatsegera ditindaklanjuti. Peran pemerintah kabupaten juga menjadi bagian penting dalammemperkuat tata kelola distribusi energi. Sekretaris Daerah KabupatenOgan Komering Ilir, Asmar Wijaya, menyampaikan bahwa pemerintahdaerah bersama Pertamina…

Read More

Perbaikan Distribusi BBM di Sumatra Dukung KelancaranAktivitas Ekonomi dan Logistik

Oleh: Satria Kusuma )* Perbaikan distribusi bahan bakar minyak (BBM) di berbagai wilayah Sumatra mulai menunjukkan hasil yang semakin positif. Kelancaranpenyaluran energi yang terus membaik tidak hanya mempermudahmasyarakat memperoleh BBM, tetapi juga memberikan dampak langsungterhadap aktivitas ekonomi dan logistik yang sangat bergantung pada ketersediaan pasokan energi.  Upaya percepatan distribusi yang dilakukan PT Pertamina Patra Niaga bersama pemerintah daerah, aparat keamanan, Hiswana Migas, sertaberbagai pemangku kepentingan berhasil mengurangi antrean di sejumlahstasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), sekaligus menjagakesinambungan pasokan di wilayah yang sebelumnya mengalamikepadatan permintaan. Kondisi yang semakin terkendali terlihat di Sumatra Utara. Distribusi BBM yang sebelumnya menghadapi tantangan kini berlangsung lebih lancarseiring optimalisasi koordinasi antarlembaga dan peningkatan sistemoperasional di lapangan. Normalisasi penyaluran menjadi faktor pentingdalam memastikan mobilitas masyarakat, distribusi barang, hinggakegiatan usaha dapat berjalan tanpa hambatan akibat keterbatasanpasokan energi. Komisaris Independen PT Pertamina Patra Niaga, Prabu Revolusi, melakukan Management Walkthrough ke Pertamina Patra Niaga Regional Sumatra Bagian Utara dengan meninjau langsung Command Centersebagai pusat pemantauan distribusi BBM serta mengunjungi sejumlahSPBU di Kota Medan. Berdasarkan hasil pemantauan melalui sistempengawasan dan inspeksi lapangan, ia menilai antrean kendaraan telahberangsur normal, sementara pelayanan kepada masyarakat berlangsungsemakin efektif. Prabu menilai keberhasilan tersebut merupakan hasil kolaborasi seluruhpihak yang terlibat dalam percepatan distribusi. Menurutnya, fokus utamaperusahaan adalah memastikan masyarakat kembali memperoleh BBM secara mudah dan nyaman. Hasil pemantauan di lapangan juga menunjukkan bahwa proses distribusi terus bergerak menuju kondisi yang lebih optimal berkat sinergi yang terjalin antara Pertamina, pemerintahdaerah, aparat keamanan, dan seluruh pemangku kepentingan. Keandalan distribusi juga diperkuat melalui berbagai langkah operasional. Pertamina Patra Niaga Regional Sumatra Bagian Utara mengoperasikanIntegrated Terminal Medan Group selama 24 jam, menambah armada mobil tangki melalui skema spot charter, memperkuat personel Awak Mobil Tangki, serta mengoptimalkan suplai dari Fuel Terminal Kisaran, Fuel Terminal Siantar, dan Integrated Terminal Lhokseumawe. Rangkaianlangkah tersebut dirancang untuk menjaga kelancaran distribusi hingga keSPBU dan memastikan pasokan tetap tersedia sesuai kebutuhanmasyarakat. VP Corporate Communication Pertamina Patra…

Read More

Distribusi BBM di Sumatra Kian Stabil, Pasokan Energi Masyarakat Semakin Terjamin

Jakarta – Distribusi bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah wilayah Sumatra terus menunjukkan perbaikan. Berbagai langkah percepatan yang dilakukan PT Pertamina Patra Niaga bersama pemerintah daerah, aparat keamanan, Hiswana Migas, dan pemangku kepentingan dinilai berhasil memperlancar penyaluran energi, mengurangi antrean di SPBU, serta menjaga ketersediaan pasokan bagi masyarakat. Komisaris Independen PT Pertamina Patra Niaga, Prabu…

Read More

Pengawasan BBM Subsidi Diperketat Demi Menjamin Penyaluran Tepat Sasaran di Sumatra

Jakarta – Pemerintah melalui PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumatra Bagian Selatan (Sumbagsel) bersama Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan memperkuat pengawasan penyaluran BBM subsidi melalui inspeksi mendadak (sidak) di sejumlah SPBU di Palembang, Banyuasin, dan Ogan Ilir. Langkah ini dilakukan untuk memastikan distribusi BBM subsidi tepat sasaran, menjaga ketersediaan pasokan energi, serta meningkatkan kualitas pelayanan kepada…

Read More

MBG Papua, Fondasi Kuat Mewujudkan Generasi Sehat, Cerdas, dan BerdayaSaing Tinggi

Oleh : Fransiskus Nawipa Pembangunan sumber daya manusia merupakan fondasi utama bagi kemajuan suatudaerah. Di Papua, upaya tersebut kini semakin diperkuat melalui pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhangizi anak, tetapi juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam menciptakangenerasi yang sehat, cerdas, produktif, dan memiliki daya saing tinggi. Program inimenunjukkan bahwa investasi terbaik bagi masa depan tidak semata-mata diwujudkanmelalui pembangunan fisik, melainkan juga melalui peningkatan kualitas manusia sejakusia dini. Dengan memastikan setiap anak memperoleh asupan gizi yang memadai, pemerintah sedang membangun modal dasar bagi lahirnya generasi Papua yang mampu berkompetisi di tingkat nasional maupun global. Peluncuran Dashboard Satuan Tugas MBG Provinsi Papua menjadi salah satu langkahpenting dalam memperkuat tata kelola program tersebut. Kehadiran sistem pemantauanberbasis data mencerminkan komitmen pemerintah untuk memastikan setiap tahapanpelaksanaan MBG berlangsung secara terukur, transparan, dan akuntabel. Dashboard ini memungkinkan pemerintah memantau rantai pasok bahan pangan, operasionalSatuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), jumlah penerima manfaat, cakupansekolah, hingga penanganan berbagai persoalan yang mungkin muncul di lapangan. Melalui pengelolaan data yang terintegrasi, setiap kebijakan dapat diambil secara lebihcepat, tepat, dan berdasarkan kondisi riil di lapangan. Kepala Kantor Perwakilan UNICEF Papua, Aminuddin Muhammad Ramdan, menegaskan bahwa dashboard MBG dirancang untuk mengelola seluruh data pelaksanaan program mulai dari rantai pasok bahan makanan hingga penerimamanfaat sehingga pemerintah memiliki dasar yang kuat dalam mengambil keputusanyang akurat, tepat sasaran, serta mampu melakukan tindak lanjut secara cepat apabilaterjadi permasalahan di lapangan. Menurutnya, pendampingan UNICEF juga diarahkanuntuk memperkuat kapasitas operasional SPPG agar dapat menjadi model pelaksanaan yang dapat diterapkan di berbagai daerah. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan MBG tidak hanya diukur darijumlah makanan yang berhasil disalurkan setiap hari, tetapi juga dari kualitas sistemyang mendukung keberlangsungan program dalam jangka panjang. Tata kelola yang baik akan meningkatkan kepercayaan masyarakat sekaligus memastikan manfaatprogram benar-benar dirasakan oleh kelompok sasaran. Transparansi informasi yang diberikan melalui dashboard juga membuka ruang partisipasi masyarakat untuk ikutmengawasi pelaksanaan program sehingga tercipta mekanisme pengawasan yang lebih efektif. Komitmen Pemerintah Provinsi Papua juga memperlihatkan bahwa MBG diposisikansebagai investasi pembangunan manusia. Dalam sambutan Gubernur Papua yang dibacakan oleh Asisten I Setda Provinsi Papua, Yohanis Walilo, ditegaskan bahwaProgram Makan Bergizi Gratis bukan sekadar program pemenuhan gizi, melainkaninvestasi jangka panjang untuk melahirkan generasi Papua yang sehat, cerdas, kuat, dan mampu bersaing di masa depan. Ia juga menekankan bahwa data yang tersajimelalui Dashboard Satgas MBG harus menjadi dasar pengambilan keputusan yang cepat, tepat, dan terukur dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Keberhasilan program tentu tidak dapat dicapai hanya melalui kerja pemerintah semata. Sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan menjadi faktor yang sangat menentukan. Keterlibatan pemerintah kabupaten dan kota, tenaga kesehatan, institusipendidikan, organisasi masyarakat, dunia usaha, hingga mitra pembangunanmemperlihatkan bahwa MBG merupakan gerakan bersama dalam membangun masa depan Papua. Kolaborasi tersebut menjadi kekuatan utama untuk menjawab berbagaitantangan distribusi, pengawasan, maupun peningkatan kualitas pelayanan di lapangan. Pelaksanaan MBG di Kabupaten Nabire memberikan gambaran mengenai kesiapanpemerintah dalam memastikan kesinambungan layanan. Setelah berakhirnya masa libur sekolah, Badan Gizi Nasional (BGN) kembali mengaktifkan layanan MBG Semester II secara bertahap dengan menyesuaikan kondisi sekolah yang masihmenjalani Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Pendekatan inimenunjukkan bahwa pelaksanaan program tetap memperhatikan efektivitas proses pembelajaran sehingga distribusi makanan dapat berlangsung sesuai kebutuhanpeserta didik. Koordinator Wilayah BGN Kabupaten Nabire,…

Read More

Pembenahan MBG Menjaga Kelompok Rentan Tetap Terlindungi

*) Oleh: Rina Maharani Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak semata dipahami sebagai agenda pemenuhan kebutuhan pangan harian, melainkan sebagai investasi negara dalammembangun kualitas manusia Indonesia. Persoalan stunting, ketimpangan aksespangan bergizi, hingga disparitas layanan kesehatan masih menjadi pekerjaan rumahyang membutuhkan intervensi negara secara konsisten. Dalam situasi tersebut, pemerintah memilih menempatkan pemenuhan gizi sebagai salah satu prioritaspembangunan nasional. Langkah ini menunjukkan bahwa pembangunan tidak lagihanya dipandang dari sisi infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga darikualitas manusia yang akan menentukan daya saing bangsa di masa depan. Oleh karena itu, MBG patut dipahami sebagai investasi jangka panjang yang dampaknyaakan dirasakan lintas generasi. Di antara berbagai kelompok penerima manfaat, pemerintah memberikan perhatiankhusus kepada kelompok rentan yang dikenal sebagai sasaran 3B, yakni ibu hamil, balita yang belum bersekolah, dan ibu menyusui. Penetapan prioritas ini bukan tanpaalasan, sebab ketiga kelompok tersebut berada dalam fase kehidupan yang sangat menentukan kualitas kesehatan dan tumbuh kembang manusia. Kekurangan gizipada masa kehamilan dan awal kehidupan dapat meninggalkan dampak permanenterhadap perkembangan fisik maupun kognitif seseorang. Karena itu, keberpihakanterhadap kelompok 3B sejatinya merupakan upaya negara untuk memutus matarantai kemiskinan dan meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa. Dengandemikian, setiap kebijakan yang memperkuat perlindungan terhadap kelompok inimemiliki nilai strategis yang jauh melampaui manfaat jangka pendek. Namun demikian, pelaksanaan program berskala nasional yang menjangkau jutaanpenerima manfaat tentu tidak terlepas dari berbagai tantangan di lapangan. Mulai dariaspek distribusi, pengawasan, hingga kesiapan infrastruktur pendukung menjadifaktor yang harus terus dievaluasi. Di sinilah pentingnya memandang evaluasisebagai bagian dari proses penyempurnaan kebijakan, bukan sebagai alasan untukmenghentikan atau mengurangi komitmen negara terhadap masyarakat. Sebab, program yang besar membutuhkan kemampuan beradaptasi agar tetap relevan dan tepat sasaran. Semakin cepat pemerintah melakukan koreksi, semakin besar pula peluang MBG memberikan dampak yang optimal bagi kelompok rentan. Sejalan dengan hal tersebut, Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai menegaskanbahwa MBG merupakan bagian dari upaya negara dalam memenuhi hak-hak dasarmasyarakat. Perspektif hak asasi manusia memberikan dimensi yang lebih luasterhadap program ini, karena hak atas pangan merupakan salah satu hakfundamental yang dijamin negara. Natalius Pigai menempatkan evaluasi MBG dalamkerangka perbaikan tata kelola, sehingga setiap catatan terhadap pelaksanaanprogram seharusnya dimaknai sebagai upaya memperkuat efektivitas kebijakan. Pandangan ini menegaskan bahwa pembenahan dan perlindungan terhadapkelompok rentan berjalan beriringan. Negara tidak boleh berhenti memenuhi hak ataspangan hanya karena menghadapi tantangan implementasi di lapangan. Lebih lanjut, pendekatan berbasis hak asasi manusia menempatkan kelompok 3B sebagai subjek utama pembangunan. Ibu hamil membutuhkan asupan nutrisi yang memadai untuk mengurangi risiko komplikasi dan mendukung perkembangan janinsecara optimal. Sementara itu, ibu menyusui memegang peran penting dalammemastikan terpenuhinya kebutuhan gizi anak pada fase awal kehidupan. Adapun balita yang belum bersekolah berada pada masa emas perkembangan otak yang sangat menentukan kualitas pembelajaran pada jenjang berikutnya. Dengan kata lain, pembenahan MBG sesungguhnya adalah upaya memperkuat fondasi Indonesia Emas 2045 melalui perlindungan terhadap kelompok yang paling menentukan masa depanbangsa. Selain itu, Komisioner Pengkajian dan Penelitian Komnas HAM, Uli ParulianSihombing, menekankan bahwa penyelenggaraan MBG harus diprioritaskan bagikelompok rentan dan masyarakat yang paling membutuhkan. Pernyataan tersebutmenjadi pengingat bahwa ukuran keberhasilan program tidak hanya terletak pada luasnya cakupan, tetapi juga pada ketepatan sasaran penerima manfaat. Ketika negara mampu memastikan bantuan sampai kepada mereka yang berada dalamkondisi paling rentan, maka dampak sosial yang dihasilkan akan lebih besar dan berkelanjutan. Pendekatan ini juga sejalan dengan prinsip keadilan sosial yang menjadi salah satu tujuan utama pembangunan nasional. Pada akhirnya, kebijakanyang tepat sasaran akan meningkatkan efektivitas penggunaan anggaran sekaligusmemperkuat legitimasi publik terhadap program pemerintah. Selanjutnya, penajaman sasaran penerima manfaat menjadi langkah yang relevandalam konteks Indonesia yang memiliki keragaman geografis dan tingkatkesejahteraan masyarakat yang berbeda-beda. Wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) masih menghadapi keterbatasan akses terhadap layanan dasar, termasukpangan bergizi. Dalam banyak kasus, kelompok masyarakat di daerah tersebut justrumenghadapi beban ganda berupa keterbatasan ekonomi dan minimnya infrastrukturpendukung. Oleh sebab itu, kebijakan yang memberikan afirmasi kepada masyarakatmiskin, kelompok rentan, dan wilayah 3T akan memperbesar dampak positif MBG. Penajaman target tidak berarti mempersempit manfaat program, melainkanmemastikan bahwa mereka yang paling membutuhkan menjadi pihak pertama yang menerima perlindungan negara. Di sisi lain,…

Read More