Beras Aman di Tengah Badai Global

Oleh: Citra Kurnia Khudori)* Di tengah ketidakpastian global yang terus meningkat, isu ketahanan pangan kembali menjadi perhatian utama berbagai negara. Indonesia, melalui langkah-langkah strategis pemerintah, justru menunjukkan keyakinan kuat bahwa stok beras nasional tetap aman dan terkendali. Situasi ini menjadi semakin relevan mengingat dunia sedang menghadapi ancaman perubahan iklim ekstrem, gangguan rantai pasok, hingga potensi…

Read More
Koperasi Merah Putih Dorong Aktivasi Tenaga Kerja Lokal

Koperasi Merah Putih Dorong Aktivasi Tenaga Kerja Lokal

Jakarta – Pemerintah terus memperkuat peran Koperasi Merah Putih sebagai motor penggerak ekonomi desa sekaligus instrumen strategis dalam mendorong aktivasi tenaga kerja lokal. Program ini menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam memperluas kesempatan kerja, meningkatkan produktivitas masyarakat, serta memperkuat kemandirian ekonomi berbasis desa pada tahun 2026. Melalui pengembangan Koperasi Merah Putih di berbagai wilayah, pemerintah…

Read More

Koperasi Merah Putih Dorong Desa Jadi Titik Tumbuh Lapangan Kerja

Jakarta – Pemerintah terus memperkuat peran desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru melalui program Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih. Inisiatif ini tidak hanya bertujuan memperkuat kemandirian ekonomi desa, tetapi juga membuka peluang kerja dalam skala besar bagi masyarakat lokal. Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono memastikan bahwa proses rekrutmen tenaga kerja Kopdes Merah Putih akan mengutamakan…

Read More

Koperasi Merah Putih dan Reaktivasi Lapangan Kerja Desa

*) Oleh: Dimas Eka Permana Program Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah Putih) hadir sebagai intervensistrategis dalam menjawab persoalan struktural ketenagakerjaan di tingkat desa yang selama ini belum tertangani secara optimal. Desa kerap berada dalam lingkaranketerbatasan akses ekonomi, rendahnya produktivitas, serta minimnya penciptaanlapangan kerja yang berkelanjutan. Oleh karena itu, proyeksi pembentukan 80.000 koperasi hingga 2029 yang digagas oleh Prabowo Subianto menjadi langkahfundamental dalam mendorong reaktivasi lapangan kerja desa. Program ini tidaksekadar membentuk kelembagaan ekonomi, tetapi juga menghidupkan kembaliaktivitas produktif berbasis komunitas. Dengan pendekatan kolektif, desa diposisikansebagai pusat pertumbuhan baru yang mampu menyerap tenaga kerja secarasignifikan. Lebih jauh, program ini tidak hanya berhenti pada pembentukan lembaga ekonomiformal, tetapi juga menyasar langsung pada penciptaan lapangan kerja dalam skalamasif. Zulkifli Hasan menjelaskan bahwa setiap koperasi diperkirakan mampumenyerap rata-rata 20 tenaga kerja langsung, sehingga apabila 80.000 unit berhasildidirikan, potensi penyerapan mencapai sekitar 1,6 juta orang. Angka tersebut bahkanbelum mencakup efek berganda dari sektor turunan seperti peternakan, hortikultura, hingga UMKM yang terhubung dalam rantai produksi koperasi. Dengan demikian, Kopdes Merah Putih tidak hanya menciptakan pekerjaan, tetapi juga membangunekosistem ekonomi desa yang produktif. Hal ini mempertegas bahwa desa memilikikapasitas untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Selanjutnya, langkah pemerintah membuka rekrutmen 30.000 manajer koperasimenunjukkan keseriusan dalam memastikan tata kelola yang profesional. MenurutZulkifli Hasan sebagai Menteri Koordinator Bidang Pangan, rekrutmen ini merupakanbagian dari strategi memperkuat ketahanan ekonomi desa dan kelurahan secarasistematis. Para manajer yang lolos seleksi akan berada di bawah naungan PT Agrinas Pangan Nusantara dengan skema Perjanjian Kerja Waktu Tertentu selamadua tahun. Status ini menempatkan mereka sebagai bagian dari ekosistem Badan Usaha Milik Negara yang memiliki standar kinerja tinggi. Dengan pendekatantersebut, koperasi tidak lagi dipandang sebagai entitas tradisional, melainkan sebagaiinstitusi ekonomi modern yang dikelola secara profesional. Di sisi lain, Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota menegaskan bahwa keberadaan manajer profesional di tingkat desa menjadifaktor kunci dalam memastikan operasional koperasi berjalan efisien dan menguntungkan. Fokus utama para manajer bukan sekadar menjalankanadministrasi, tetapi memastikan koperasi mampu menjadi mesin penggerak ekonomibaru di tingkat lokal. Dengan pendekatan manajerial yang tepat, koperasi diharapkanmampu bersaing dalam dinamika pasar yang semakin kompleks. Hal ini sekaligusmenjawab tantangan klasik koperasi di Indonesia yang kerap menghadapi persoalantata kelola. Dengan demikian, profesionalisasi menjadi fondasi penting dalamkeberlanjutan program ini. Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa koperasi merupakaninstrumen strategis untuk menyatukan kekuatan ekonomi rakyat kecil agar memilikiposisi tawar yang setara di pasar domestik maupun global. Konsolidasi ini membukapeluang kerja yang lebih luas karena aktivitas ekonomi tidak lagi berjalan secaraterfragmentasi. Dengan kekuatan kolektif, koperasi mampu menciptakan skala usahayang lebih besar sehingga membutuhkan lebih banyak tenaga kerja. Hal ini secaralangsung berkontribusi pada reaktivasi lapangan kerja desa yang sebelumnyaterbatas. Dengan demikian, koperasi menjadi solusi struktural dalam memperluaskesempatan kerja berbasis komunitas. Reaktivasi lapangan kerja desa melalui Kopdes Merah Putih juga menciptakanstabilitas ekonomi lokal yang lebih kokoh. Ketika lapangan kerja tersedia secarakonsisten, daya beli masyarakat desa meningkat dan mendorong perputaran ekonomiyang lebih kuat. Kondisi ini menciptakan siklus produktif yang memperkuatkeberlanjutan usaha koperasi sekaligus memperluas kebutuhan tenaga kerja. Dengandemikian, program ini tidak hanya membuka pekerjaan, tetapi juga menjagakeberlanjutannya melalui mekanisme ekonomi yang saling menguatkan….

Read More

Koperasi Merah Putih dan Distribusi Kesempatan Kerja yang Lebih Merata

Oleh : Ricky Rinaldi Pemerataan kesempatan kerja menjadi bagian penting dalam pembangunanekonomi nasional yang terus diperkuat melalui berbagai kebijakan yang lebihinklusif. Pertumbuhan ekonomi yang berlangsung mendorong terbukanya peluangusaha dan kerja di berbagai daerah, termasuk di luar pusat pertumbuhan. Dalamkerangka ini, penguatan koperasi sebagai instrumen ekonomi kerakyatan kembalimendapat perhatian, salah satunya melalui gagasan Koperasi Merah Putih yang diarahkan untuk memperluas akses lapangan kerja secara lebih merata dan berkelanjutan. Koperasi sejak awal dirancang sebagai model ekonomi yang menempatkanpartisipasi masyarakat sebagai fondasi utama. Melalui keterlibatan langsunganggota dalam aktivitas ekonomi, koperasi tidak hanya menciptakan peluang usaha, tetapi juga memperkuat kemandirian. Karena itu, koperasi hadir bukan sekadarsebagai badan usaha, melainkan sebagai instrumen pemberdayaan sosial dan ekonomi yang memperkuat solidaritas serta daya tahan masyarakat. Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pembangunan ekonomi harusmenghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat luas. Pemerataan kesempatan kerjamenjadi bagian penting dalam menciptakan stabilitas sosial dan mengurangiketimpangan antarwilayah. Dalam kerangka tersebut, koperasi dipandang sebagaisarana yang mampu memperkuat ekonomi lokal sekaligus membuka ruang usahabaru di berbagai daerah. Koperasi Merah Putih hadir dengan pendekatan yang menempatkan masyarakatsebagai pelaku utama pembangunan ekonomi. Melalui sistem berbasis anggota, koperasi mendorong keterlibatan langsung masyarakat dalam kegiatan produktif. Skema ini memungkinkan penciptaan lapangan kerja tidak hanya di sektorperdagangan, tetapi juga pada sektor pertanian, perikanan, industri rumah tangga, hingga jasa. Menteri Koperasi Ferry Juliantono menekankan bahwa koperasi memiliki potensibesar dalam menciptakan distribusi ekonomi yang lebih adil. Penguatan koperasitidak hanya diarahkan pada aspek kelembagaan, tetapi juga pada peningkatankapasitas usaha agar mampu berkembang secara berkelanjutan. Dengan dukungankebijakan yang tepat, koperasi dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi di tingkatlokal. Distribusi kesempatan kerja melalui koperasi memiliki karakter yang berbedadibandingkan investasi skala besar. Jika investasi besar cenderung terkonsentrasi di kawasan tertentu, koperasi dapat tumbuh di berbagai wilayah sesuai kebutuhanmasyarakat. Hal ini menjadikan koperasi sebagai instrumen yang efektif dalammemperluas akses kerja hingga ke daerah yang selama ini belum tersentuhindustrialisasi. Selain membuka lapangan kerja, koperasi juga memperkuat kemandirian ekonomimasyarakat. Anggota koperasi tidak hanya berperan sebagai pekerja, tetapi juga sebagai pemilik usaha. Model ini menciptakan rasa memiliki yang kuat terhadapkegiatan ekonomi yang dijalankan. Keuntungan yang diperoleh tidak terpusat pada segelintir pihak, tetapi didistribusikan kembali kepada anggota. Koperasi Merah Putih juga dapat menjadi wadah bagi generasi muda untuk terlibatdalam kegiatan ekonomi produktif. Di tengah tantangan lapangan kerja formal yang terbatas, koperasi menawarkan alternatif yang lebih fleksibel dan berbasiskolaborasi. Anak muda dapat memanfaatkan koperasi sebagai ruang inovasi, baikdalam bidang digital, pertanian modern, maupun usaha kreatif. Dalam konteks pembangunan daerah, koperasi berpotensi menjadi penggerakekonomi berbasis komunitas. Dengan memanfaatkan potensi lokal, koperasi mampumenciptakan rantai nilai yang melibatkan masyarakat sekitar. Pendekatan inimembantu mengurangi ketergantungan terhadap pusat ekonomi sekaligusmemperkuat daya tahan ekonomi daerah. Namun, penguatan koperasi tidak terlepas dari tantangan. Masalah aksespermodalan, kapasitas manajemen, hingga adaptasi teknologi masih menjadihambatan yang perlu diatasi. Pemerintah berupaya memberikan dukungan melaluipelatihan, pendampingan, serta akses pembiayaan agar koperasi dapat berkembangsecara berkelanjutan. Digitalisasi juga menjadi peluang penting dalam memperluas peran koperasi. Dengan memanfaatkan teknologi, koperasi dapat menjangkau pasar yang lebih luasdan meningkatkan efisiensi operasional. Transformasi digital membantu koperasiberadaptasi dengan perubahan pola konsumsi dan dinamika ekonomi modern. Keberhasilan Koperasi Merah Putih sangat bergantung pada partisipasi masyarakat. Koperasi hanya akan tumbuh jika anggota terlibat aktif dalam pengelolaan dan pengembangan usaha. Kesadaran kolektif mengenai pentingnya ekonomi berbasiskebersamaan menjadi modal utama dalam memperkuat gerakan koperasi. Selain itu, koperasi juga dapat berperan sebagai sarana penguatan ekonomikeluarga. Ketika masyarakat memiliki akses terhadap usaha produktif di lingkungansendiri, ketergantungan terhadap migrasi kerja ke kota besar dapat berkurang. Hal ini menciptakan keseimbangan pembangunan antarwilayah dan memperkuatekonomi desa maupun kawasan pinggiran. Koperasi Merah Putih tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapijuga pada pembentukan ekosistem usaha yang lebih berkeadilan. Denganketerlibatan anggota sebagai pelaku utama, koperasi menciptakan ruang bagimasyarakat untuk tumbuh bersama. Model ini menjadi penting di tengah kebutuhanakan sistem ekonomi yang lebih inklusif dan tahan terhadap ketimpangan. Melalui koperasi, masyarakat tidak hanya menjadi penonton dalam pembangunanekonomi, tetapi juga pelaku utama yang ikut menentukan arah pertumbuhan. Koperasi Merah Putih menjadi simbol bahwa pembangunan ekonomi yang kuatharus dibangun dari partisipasi rakyat. Dengan dukungan kebijakan yang tepat dan keterlibatan masyarakat, koperasi dapat menjadi fondasi penting dalam menciptakankesempatan kerja yang lebih merata di seluruh Indonesia. *)Pengamat Isu Strategis

Read More
Global Lagi Ribut, Ekonomi RI Tetap Tenang Terkendali

Global Lagi Ribut, Ekonomi RI Tetap Tenang Terkendali

Jakarta – Di tengah kondisi global yang sedang ribut akibat konflik geopolitik, tekanan inflasi, dan ketidakpastian pasar keuangan, ekonomi Indonesia justru menunjukkan kondisi yang relatif stabil. Sejumlah indikator makroekonomi memperlihatkan bahwa fundamental ekonomi nasional masih cukup kuat untuk meredam dampak gejolak eksternal. Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa kondisi fiskal Indonesia masih dalam…

Read More
Global Sedang Panas, Ekonomi Indonesia Tetap Cool di Jalurnya

Global Sedang Panas, Ekonomi Indonesia Tetap Cool di Jalurnya

Jakarta – Perekonomian Indonesia tetap menunjukkan stabilitas meskipun tekanan global kian meningkat akibat konflik geopolitik, gangguan rantai pasok, dan tingginya suku bunga internasional. Kondisi ini menegaskan bahwa ekonomi nasional tetap berada pada jalur yang solid dan terkendali, sejalan dengan berbagai kebijakan yang telah ditempuh pemerintah. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa strategi pemerintah difokuskan…

Read More

No Panic Mode: Cara Indonesia Jaga Ekonomi di Tengah Tekanan Global

*) Oleh : Arya Wicaksana Di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian, mulai dari konflik geopolitik TimurTengah hingga fluktuasi harga komoditas, Indonesia menunjukkan sikap yang relatiftenang dan terukur. Alih-alih terjebak dalam kepanikan, pemerintah dan pelaku ekonomimemilih pendekatan “No Panic Mode” dengan fokus pada stabilitas dan keberlanjutan. Sikap ini bukan berarti mengabaikan risiko, melainkan mencerminkan kesiapan dalammenghadapi tekanan dengan strategi yang matang. Dalam konteks ini, ketenanganmenjadi kekuatan tersendiri untuk menjaga kepercayaan pasar dan masyarakat. Salah satu kunci dari pendekatan ini adalah penguatan fundamental ekonomi domestik. Indonesia tidak hanya bergantung pada faktor eksternal, tetapi terus mendorongkonsumsi dalam negeri sebagai motor utama pertumbuhan. Dengan jumlah pendudukyang besar dan daya beli yang relatif terjaga, konsumsi rumah tangga tetap menjadipenopang stabilitas ekonomi. Selain itu, pemerintah juga berupaya menjaga inflasi agar tetap terkendali, sehingga masyarakat tidak merasakan tekanan yang berlebihan dalamkehidupan sehari-hari. Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menegaskan bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dalam menghadapi tekanan geopolitik global, termasukkonflik di Timur Tengah. Bank Indonesia tetap mempertahankan BI Rate pada level 4,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,50%. Keputusan ini konsisten dengan upaya meningkatkan efektivitasstrategi penyesuaian struktur suku bunga instrumen operasi moneter guna memperkuatstabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak memburuknya kondisi perekonomian global akibat perang di Timur Tengah. Saat ini, kebijakan yang diambil cenderung hati-hati namun tetap adaptif. Pemerintahmenjaga keseimbangan antara belanja negara dan pendapatan, sehingga defisitanggaran tetap dalam batas aman. Program-program prioritas tetap dijalankan, terutama yang berkaitan dengan perlindungan sosial dan pembangunan infrastruktur. Langkah ini penting untuk memastikan bahwa roda ekonomi terus berputar, sekaligusmemberikan jaring pengaman bagi kelompok masyarakat yang rentan. Sementara itu, dari sisi moneter, stabilitas nilai tukar menjadi perhatian utama. BImengambil langkah-langkah strategis untuk menjaga rupiah agar tidak bergejolaksecara berlebihan. Intervensi di pasar valuta asing dilakukan secara terukur, disertaidengan kebijakan suku bunga yang mempertimbangkan kondisi global dan domestik. Tujuannya jelas, yaitu menjaga kepercayaan investor sekaligus memastikan likuiditastetap tersedia di dalam negeri. Selain kebijakan makro, penguatan sektor riil juga menjadi bagian penting dari strategi“No Panic Mode” ini. Pemerintah mendorong hilirisasi industri untuk meningkatkan nilaitambah produk dalam negeri, terutama di sektor sumber daya alam. Dengan tidakhanya mengekspor bahan mentah, Indonesia dapat memperoleh manfaat ekonomiyang lebih besar sekaligus menciptakan lapangan kerja. Langkah ini juga membantumengurangi ketergantungan terhadap pasar global yang seringkali tidak stabil. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan ekonomi Indonesia tetaptangguh di tengah tekanan situasi geopolitik global saat ini. Pemerintah berupayameningkatkan investasi dengan memastikan ekonomi nasional tumbuh sesuai target dan menyelaraskan kebijakan fiskal dengan realisasinya demi menciptakan perbaikankondisi ekonomi secara berkelanjutan. Pihaknya  juga menegaskan Indonesia tengah menggeser fokus pembangunan, tidakhanya menjaga stabilitas, tapi juga menuju pertumbuhan yang lebih produktif, bernilaitambah, dan menciptakan lapangan kerja berkualitas. Transformasi ini didorong melaluitiga pilar utama, yaitu investasi, industrialisasi, dan produktivitas.  Di sisi lain, digitalisasi ekonomi turut menjadi penopang ketahanan nasional. Perkembangan teknologi memungkinkan pelaku usaha, termasuk UMKM, untuk tetapbertahan bahkan berkembang di tengah tekanan global. Platform digital membukaakses pasar yang lebih luas dan efisien, sehingga pelaku usaha tidak sepenuhnyabergantung pada kondisi fisik atau geografis. Transformasi ini juga mendorong inklusiekonomi yang lebih merata di berbagai daerah. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto pemanfaatan teknologidigital terus didorong sebagai strategi untuk memperkuat daya tahan ekonomi nasional. Disebutkan bahwa pelaku UMKM diarahkan untuk memanfaatkan ekosistem digital agar mampu memperluas pasar, meningkatkan efisiensi usaha, serta menjagakeberlangsungan bisnis di tengah dinamika global yang tidak menentu. Upaya ini dinilaipenting agar transformasi ekonomi berjalan inklusif dan mampu menjangkau seluruhlapisan masyarakat. Kepercayaan publik menjadi faktor yang tidak kalah penting dalam menjaga stabilitasekonomi. Komunikasi pemerintah yang transparan dan konsisten membantu meredamkekhawatiran masyarakat. Ketika informasi disampaikan secara jelas, masyarakatcenderung lebih tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh isu-isu negatif. Dalam situasiglobal yang penuh ketidakpastian, kepercayaan menjadi modal sosial yang sangatberharga. Pada akhirnya, pendekatan “no panic mode” yang diterapkan Indonesia menunjukkanbahwa menghadapi tekanan global tidak selalu harus dengan langkah drastis. Ketenangan, konsistensi kebijakan, dan penguatan fondasi ekonomi menjadi kombinasiyang efektif untuk menjaga stabilitas. Tantangan ke depan tentu masih ada, namundengan strategi yang tepat dan kerja sama semua pihak, Indonesia memiliki peluangbesar untuk tetap tumbuh dan bertahan di tengah gelombang ketidakpastian global. *) Penulis merupakan Pemerhati Isu Sosial-Ekonomi

Read More

Global Tidak Pasti, Ekonomi Indonesia Tetap Punya Kendali

Oleh: Bara Winatha *) Ketidakpastian global yang dipicu oleh dinamika geopolitik, tekanan inflasi dunia, hingga fluktuasi pasar keuangan internasional menjadi tantangan besar bagi banyak negara. Konflik di berbagai kawasan, termasuk Timur Tengah, serta kebijakan moneter negara maju yang agresif, telah menciptakan volatilitas tinggi dalam sistem ekonomi global. Namun di tengah kondisi tersebut, Indonesia dinilai masih memiliki kemampuan…

Read More

Kepala Daerah Siapkan Strategi Hadapi KetidakpastianGlobal

Oleh: Reza Maulana Hakim )* Dinamika global yang terus berkembang menuntut respons cepat danterukur dari pemerintah di berbagai tingkatan. Ketegangan geopolitik, fluktuasi harga energi, serta gangguan rantai pasok menjadi faktor yang tidak hanya memengaruhi perekonomian global, tetapi juga berdampaklangsung pada kondisi sosial ekonomi di daerah. Dalam situasi tersebut, peran kepala daerah menjadi semakin krusial dalam memastikan stabilitastetap terjaga. Pemerintah pusat melalui Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian, mendorong seluruh kepala daerah untuk meningkatkankesiapsiagaan menghadapi potensi inflasi dan dampak krisis global.  Tito menilai bahwa isu biaya hidup kini menjadi perhatian utamamasyarakat, terutama terkait kebutuhan pangan. Kondisi ini menunjukkanbahwa inflasi tidak lagi sekadar indikator ekonomi makro, melainkan telahmenjadi persoalan nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakatsehari-hari. Dalam pandangan Tito, kenaikan harga pangan, energi, dan biayadistribusi berpotensi memicu tekanan sosial apabila tidak dikelola denganbaik. Oleh karena itu, pemerintah daerah diharapkan tidak bersikap pasif, melainkan mampu mengambil langkah cepat dan terarah sebelumpermasalahan berkembang lebih luas. Pendekatan antisipatif menjadipenting agar dampak yang ditimbulkan tidak semakin besar. Lebih lanjut, Tito Karnavian juga menyoroti bahwa dinamika global sepertikonflik internasional dan ketegangan antarnegara besar memiliki implikasilangsung terhadap harga energi dunia.  Kenaikan harga minyak, misalnya, dapat menimbulkan efek berantaiterhadap biaya transportasi dan distribusi barang, yang pada akhirnyaberdampak pada harga kebutuhan pokok. Kondisi ini menegaskanpentingnya peran aktif pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas hargadi wilayah masing-masing. Penguatan Tim Pengendalian Inflasi Daerah menjadi salah satu langkahstrategis yang terus didorong. Pemerintah daerah diminta untukmeningkatkan koordinasi dengan Badan Pusat Statistik guna memantaupergerakan harga secara real-time.  Dengan data yang akurat dan terkini, kebijakan yang diambil dapat lebihtepat sasaran. Fokus pengendalian inflasi diarahkan pada dua aspekutama, yakni menjaga ketersediaan pasokan dan memastikan kelancarandistribusi. Pengalaman di berbagai daerah menunjukkan bahwa lonjakan harga tidakselalu disebabkan oleh produksi yang terbatas, tetapi juga oleh distribusiyang belum optimal. Hal ini menjadi perhatian penting bagi pemerintahdaerah untuk memperkuat sistem logistik agar lebih efisien.  Daerah dengan basis produksi yang kuat dinilai lebih tangguh dalammenghadapi tekanan ekonomi, sementara wilayah yang bergantung padapasokan dari luar perlu memperkuat strategi ketahanan pangan. Di tingkat daerah, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa,menunjukkan bagaimana strategi terpadu dapat diterapkan secarakonkret. Ia memandang bahwa dinamika geopolitik global memilikidampak luas terhadap sektor energi, pangan, dan logistik. Oleh karenaitu, penguatan ketahanan dan peningkatan kapasitas adaptasi menjadikunci agar daerah tetap mampu bertahan sekaligus memanfaatkanpeluang yang ada. Sebagai salah satu motor penggerak ekonomi nasional, Jawa Timurmemiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas ekonomi. Kinerjaekonomi daerah tersebut menunjukkan tren positif, baik dari sisipertumbuhan maupun investasi. Hal ini menjadi indikator bahwa strategiyang diterapkan mampu menjaga momentum pertumbuhan di tengahtekanan global. Penguatan sektor pangan menjadi prioritas utama yang terus dijaga. Dengan posisi sebagai salah satu lumbung pangan nasional, Jawa Timurberupaya memastikan produksi tetap stabil serta distribusi berjalan lancar. Pemerintah daerah juga mengoptimalkan cadangan pangan sertamelakukan intervensi melalui operasi pasar untuk menjagaketerjangkauan harga bagi masyarakat. Di sektor energi, pemerintah daerah memastikan ketersediaan bahanbakar tetap aman meskipun harga global mengalami volatilitas. Selain itu, pengembangan energi baru terbarukan terus dipercepat sebagai langkahjangka panjang untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil. Kebijakan ini mencerminkan upaya adaptif dalam menghadapi tantanganglobal yang semakin kompleks. Di sisi lain, penguatan perlindungan sosial terus dilakukan untuk menjagadaya beli masyarakat, khususnya kelompok rentan. Dukungan terhadapusaha mikro, kecil, dan menengah diperkuat melalui berbagai kebijakan, termasuk relaksasi pembiayaan. Program bantuan sosial juga diperluasuntuk memastikan masyarakat tetap terlindungi di tengah tekananekonomi. Langkah serupa juga dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara di bawah kepemimpinan Gubernur Andi Sumangerukka. Iamenekankan bahwa dinamika global dapat berdampak langsung padadistribusi energi dan kebutuhan pokok. Oleh karena itu, pengendalianinflasi menjadi prioritas utama agar daya beli masyarakat tetap terjaga. Pemerintah daerah di Sulawesi Tenggara diarahkan untuk fokus menjagastabilitas harga serta memastikan ketersediaan pasokan. Pengawasanterhadap pergerakan harga bahan pokok diperkuat, terutama menjelangperiode dengan tingkat konsumsi tinggi. Pendekatan ini mencerminkanupaya nyata pemerintah dalam melindungi masyarakat dari dampaktekanan eksternal. Selain kebijakan ekonomi, langkah sosial juga dihadirkan sebagai bentukkeberpihakan kepada masyarakat. Program mudik gratis yang disiapkanpemerintah daerah menjadi salah satu contoh konkret bagaimanakebijakan publik dapat membantu meringankan beban masyarakat. Pendataan yang akurat menjadi kunci agar program tersebut tepatsasaran dan memberikan manfaat optimal. Berbagai langkah yang dilakukan pemerintah pusat dan daerahmenunjukkan bahwa sinergi menjadi faktor utama dalam menghadapiketidakpastian global. Koordinasi yang kuat, kebijakan yang adaptif, sertakeberpihakan pada masyarakat menjadi fondasi penting dalam menjagastabilitas nasional. *) Pengamat Kebijakan Publik dan Ekonomi Daerah

Read More