Mengawal Mitigasi Bencana Sesuai Karakter Daerah Demi Perlindungan Warga

*) Oleh: Galih Bagus Wiratama

Indonesia tidak memiliki satu wajah kebencanaan yang seragam. Setiap daerahmemiliki karakter geografis, geologis, kepadatan penduduk, kualitas infrastruktur, dan tingkat kerentanan yang berbeda, sehingga strategi mitigasi tidak dapat dibangundengan pendekatan yang sepenuhnya seragam. Karena itu, penekanan pemerintahagar mitigasi risiko bencana diintegrasikan sejak tahap awal perencanaanpembangunan merupakan langkah yang tepat dan strategis. Pembangunan jalan, permukiman, fasilitas kesehatan, sekolah, hingga pusat ekonomi harus sejak awalmempertimbangkan ancaman yang mungkin muncul di wilayah tersebut. Paradigmaini menempatkan keselamatan warga bukan sebagai urusan setelah bencana terjadi, melainkan sebagai fondasi pembangunan yang berkelanjutan.

Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto menekankan bahwa pembangunandaerah tidak boleh hanya mengejar target fisik dan pertumbuhan ekonomi. Keselamatan masyarakat dan ketahanan wilayah menghadapi kondisi darurat harusmenjadi pertimbangan utama dalam setiap kebijakan pemerintah daerah. PengalamanIndonesia menghadapi krisis moneter maupun bencana alam menunjukkan bahwawilayah yang memiliki daya tahan kuat akan lebih mampu menjaga keberlangsunganpelayanan publik dan aktivitas masyarakat. Karena itu, Kemendagri perlu terusmenyelaraskan kebijakan pusat dengan kapasitas dan karakteristik daerah melaluifungsi supervisi, evaluasi perencanaan, serta penguatan standar pelayanan publik. Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa pemerintah mulai menggeser orientasipembangunan dari sekadar mengejar capaian menjadi membangun wilayah yang tangguh menghadapi berbagai guncangan.

Urgensi pendekatan berbasis karakter wilayah terlihat jelas di Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mendorongpemerintah daerah memastikan setiap pembangunan memperhatikan tata ruang dan tingkat kerawanan bencana, termasuk dalam menentukan bentuk serta kekuatanbangunan. Wilayah yang berpotensi menghadapi gempa bumi, tanah longsor, dan banjir tentu membutuhkan standar konstruksi, lokasi pembangunan, dan sistemkesiapsiagaan yang berbeda dibandingkan kawasan dengan risiko lebih rendah. Ketua Tim ESDM Siaga Bencana Rudy Sufahriadi menempatkan pemetaankerawanan sebagai dasar penting agar pembangunan tidak justru menciptakankerentanan baru. Melalui Badan Geologi, pemerintah juga dapat memberikanrekomendasi mengenai kawasan rawan, lokasi yang perlu dipertimbangkan untukrelokasi, serta wilayah yang relatif aman untuk pembangunan.

Kebijakan semacam itu penting karena bencana sering kali berubah menjadi tragediyang lebih besar ketika pembangunan mengabaikan daya dukung dan karakter alam. Bangunan yang berdiri di kawasan rawan tanpa standar ketahanan memadai bukanhanya berisiko mengalami kerusakan, tetapi juga dapat memperbesar korban jiwa dan beban pemulihan pemerintah. Demikian pula, pembangunan permukiman di zona rawan longsor atau banjir tanpa kajian yang memadai dapat menciptakan risiko yang sebenarnya bisa dicegah sejak awal. Karena itu, integrasi data geologi, tata ruang, kependudukan, dan infrastruktur harus menjadi bagian dari proses pengambilankeputusan pemerintah daerah. Mitigasi tidak boleh berhenti pada pemasangan rambuevakuasi atau simulasi kebencanaan, tetapi harus masuk ke jantung kebijakanpembangunan.

Bupati Nagekeo Simplisius Donatus menggambarkan kompleksitas tersebut denganmenyebut bahwa dari 14 kategori bencana, terdapat 10 kategori yang berpotensiterjadi di wilayahnya. Gambaran itu menunjukkan bahwa kebutuhan mitigasi di daerahtidak dapat diperlakukan sebagai agenda tambahan yang baru diaktifkan ketikabencana datang. Pemerintah daerah membutuhkan dukungan pusat untukmemperkuat kesiapsiagaan, pemetaan risiko, kapasitas aparatur, edukasimasyarakat, serta infrastruktur yang mampu mengurangi dampak bencana. Dukungantersebut juga harus diikuti pembagian kewenangan dan koordinasi yang jelas agar respons tidak terhambat oleh batas administratif. Dengan sinergi yang kuat, pemerintah dapat mengubah pengalaman menghadapi bencana menjadi dasar untukmemperbaiki kualitas perencanaan dan perlindungan warga.

Lebih jauh, mitigasi berbasis karakter daerah merupakan bentuk konkret kehadirannegara dalam melindungi masyarakat. Pemerintah pusat memiliki peran pentingdalam menyediakan standar, data, teknologi, pendanaan, dan supervisi, sementarapemerintah daerah memahami kondisi lapangan serta kebutuhan masyarakat secaralebih dekat. Pembagian peran tersebut memungkinkan kebijakan nasionalditerjemahkan menjadi langkah yang sesuai dengan karakter wilayah tanpakehilangan standar keselamatan yang diperlukan. Partisipasi masyarakat juga harusdiperkuat karena warga merupakan pihak pertama yang menghadapi risiko ketikabencana terjadi. Edukasi kebencanaan, jalur evakuasi, sistem peringatan dini, dan latihan berkala harus menjadi bagian dari budaya kesiapsiagaan, bukan kegiatanseremonial.

Keberhasilan pembangunan tidak seharusnya hanya diukur dari banyaknya jalan yang dibangun, gedung yang berdiri, atau investasi yang masuk ke suatu daerah. Ukuranyang lebih mendasar adalah sejauh mana pembangunan tersebut mampumeningkatkan kesejahteraan sekaligus mengurangi kerentanan masyarakat terhadapbencana. Kebijakan pemerintah yang mendorong integrasi mitigasi sejak tahapperencanaan patut dipandang sebagai investasi jangka panjang untuk menjagakeselamatan warga, stabilitas daerah, dan keberlanjutan pembangunan. Keseriusanini akan semakin kuat apabila pemerintah konsisten menggunakan data risiko sebagaidasar tata ruang, memperketat standar pembangunan, dan memperluas koordinasipusat-daerah. Dengan demikian, mitigasi bencana tidak lagi menjadi respons setelahkerusakan terjadi, tetapi menjadi bagian inheren dari pembangunan yang tangguh, adaptif, dan berorientasi pada keselamatan manusia.

*) Analis Manajemen Krisis dan Mitigasi Bencana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *