MBG di Papua, Ikhtiar Negara Memastikan Generasi Muda Tumbuh Sehat dan BerdayaSaing
Oleh: Markus Yoku* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu bentuk nyata perhatian pemerintahterhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia, termasuk anak-anak di Tanah Papua. Kehadiran program ini tidak semata-mata berkaitan dengan pemberian makanan kepadapeserta didik, tetapi merupakan investasi jangka panjang untuk membangun generasi yang sehat, cerdas, produktif, dan memiliki kesempatan yang lebih setara dalam meraih masa depan. Di tengah karakter geografis Papua yang penuh tantangan, komitmen memperluas manfaat MBG hingga wilayah sulit akses menjadi bukti bahwa pembangunan tidak boleh berhenti di pusat-pusat perkotaan. Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya menunjukkan komitmen tersebut denganmemperjuangkan agar MBG dapat menjangkau anak-anak di kampung yang menghadapiketerbatasan akses dan infrastruktur. Wakil Gubernur Papua Barat Daya Ahmad Nausraumenegaskan bahwa wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T harus menjadi perhatiandalam perluasan program. Menurutnya, anak-anak di kawasan yang sulit dijangkau justrumerupakan kelompok yang sangat membutuhkan dukungan pemerintah. Sikap tersebutmemperlihatkan bahwa keberpihakan pembangunan di Papua tidak hanya diukur daripembangunan fisik, tetapi juga dari kemampuan negara memenuhi kebutuhan dasar generasimudanya. Langkah Pemprov Papua Barat Daya melakukan komunikasi dengan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal menunjukkan adanya koordinasi antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat untuk mencari solusi terhadap persoalan geografis. Maybrat dan Tambrauwtelah masuk kategori 3T berdasarkan ketentuan pemerintah pusat. Namun, sejumlah wilayah di Kabupaten Sorong dan Sorong Selatan juga memiliki kondisi geografis yang tidak mudah. Karena itu, penyesuaian cakupan wilayah menjadi penting agar keterbatasan akses tidak berubahmenjadi hambatan permanen bagi anak-anak untuk memperoleh makanan bergizi. Upaya tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa negara hadir dengan pendekatan yang semakinadaptif terhadap kebutuhan daerah. Implementasi MBG di Papua tentu tidak dapat disamakansepenuhnya dengan daerah lain. Kondisi kepulauan, pegunungan, jarak antarkampung, sertaketerbatasan sarana transportasi membutuhkan strategi distribusi yang lebih kreatif dan melibatkan pemerintah daerah serta masyarakat setempat. Dengan perencanaan yang tepat, tantangan geografis dapat diubah menjadi peluang untuk membangun model pelaksanaan MBG yang sesuai dengan karakter Papua. Dukungan masyarakat menjadi kekuatan penting dalam memastikan program tersebut berjalanberkelanjutan. Sejumlah tokoh adat Tanah Tabi, Kabupaten Jayapura, secara terbuka mengajakmasyarakat, khususnya pelajar, untuk menjaga suasana aman dan memberikan kesempatankepada pemerintah memperbaiki serta menjalankan program MBG. Ondofolo Kampung Puay, Yacob Fiobetauw, mengimbau para pelajar SD, SMP, SMA, dan SMK agar tetap fokus mengikutipendidikan serta tidak mudah terpengaruh oleh ajakan yang berpotensi menggangguketenteraman masyarakat. Menurut Yacob, generasi muda seharusnya memanfaatkan kesempatanpendidikan untuk mengejar ilmu dan mewujudkan cita-cita. Pesan tersebut relevan dengan tujuan besar MBG. Program pemenuhan gizi akan memberikanmanfaat optimal apabila berjalan berdampingan dengan lingkungan pendidikan yang aman dan kondusif….
