Penerbitan Perpres Ojol, Menata Hubungan Kemitraan Berkeadilan

Oleh : Rivka Mayangsari*)

Penerbitan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 27 Tahun 2026 tentang PerlindunganEkosistem Transportasi Berbasis Platform Digital menjadi langkah pemerintah dalammemberikan kepastian hukum terhadap perkembangan ekonomi digital, khususnya bagipengemudi ojek online (ojol) dan pelaku UMKM yang bergantung pada layanan berbasisplatform. Regulasi tersebut tidak hanya mengatur transportasi orang, tetapi juga mencakuppengantaran barang dan makanan sehingga memberikan kerangka perlindungan yang lebihluas bagi seluruh pelaku dalam ekosistem digital.

Kehadiran Perpres tersebut menunjukkan upaya pemerintah menata hubungan antarapengemudi, perusahaan aplikasi, dan pelaku UMKM agar berkembang dalam ekosistem yang lebih teratur. Kepastian mengenai kemitraan, perlindungan sosial, pembagian peran, hinggakeberlanjutan usaha menjadi bagian penting dari kebijakan tersebut. Pemerintah berupayamemastikan perkembangan ekonomi digital tetap memberikan ruang yang proporsional bagimasyarakat yang menjadi bagian penting dari ekosistemnya.

Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menjelaskan bahwa penyusunan dan pelaksanaanregulasi tersebut melibatkan sejumlah kementerian, yaitu Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Kementerian Perhubungan, Kementerian Komunikasi dan Digital, serta Kementerian Sekretariat Negara. Keterlibatan lintas kementerian memperlihatkanbahwa pengaturan transportasi berbasis platform digital membutuhkan koordinasimenyeluruh karena menyentuh aspek transportasi, teknologi, kemitraan, UMKM, dan perlindungan sosial.

Wakil Menteri Sekretaris Negara Bambang Eko mengatakan bahwa Perpres tersebutmencakup berbagai aspek transportasi digital, mulai dari sistem elektronik, usaha mikro dan kemitraan, jaminan sosial, ketenagakerjaan, hingga ketentuan mengenai penerbitan peraturanpelaksanaan. Pemerintah juga menargetkan seluruh peraturan turunan yang diperlukan dapatditerbitkan paling lambat pada 31 Desember 2026. Langkah ini penting agar ketentuan dalamPerpres dapat segera diterjemahkan menjadi mekanisme yang dapat diterapkan secarakonkret.

Salah satu substansi penting dalam regulasi tersebut adalah penegasan mengenai kedudukanpengemudi ojol sebagai mitra. Menteri UMKM Maman Abdurrahman menyatakan bahwaPerpres Nomor 27 Tahun 2026 menjadi landasan untuk membangun ekosistem transportasidigital yang lebih adil, transparan, dan berkelanjutan. Kejelasan status kemitraan menjadipenting karena memberikan dasar yang lebih jelas mengenai hubungan antara pengemudidengan perusahaan penyedia aplikasi.

Menurut Maman, kepastian mengenai status tersebut sejalan dengan aspirasi yang disampaikan komunitas dan asosiasi pengemudi selama proses pembahasan regulasi. Kejelasan hubungan kemitraan diharapkan dapat menciptakan hubungan yang lebihberimbang dengan memperjelas hak, kewajiban, serta bentuk perlindungan yang dapatdiperoleh masing-masing pihak.

Pemerintah juga memberikan perhatian terhadap pengaturan tarif dan potongan yang berkaitan dengan aplikator. Dalam Perpres tersebut, Kementerian Perhubungan akanmengawal penerapan potongan tarif sebesar delapan persen bagi aplikator agar ketentuanyang telah ditetapkan dapat berjalan sesuai aturan. Pengawasan tersebut menjadi bagian dariupaya memastikan mekanisme ekonomi dalam platform digital tetap memperhatikankepentingan pengemudi sebagai salah satu aktor utama dalam layanan transportasi daring.

Tidak berhenti pada layanan transportasi penumpang, cakupan Perpres juga diperluasterhadap layanan pengantaran barang dan makanan. Perluasan ini memiliki arti strategiskarena layanan tersebut berkaitan langsung dengan aktivitas UMKM yang semakin banyakmemanfaatkan platform digital untuk memasarkan dan mengirimkan produk kepadakonsumen. Kementerian Komunikasi dan Digital akan berperan dalam mengatur aspekpengantaran barang dan makanan agar penghasilan pengemudi dapat tetap terjamin dan layak.

Kebijakan tersebut sekaligus memperkuat keterhubungan antara ekonomi digital dan sektorUMKM. Bagi pelaku usaha kecil, keberadaan layanan pengantaran menjadi bagian pentingdalam memperluas jangkauan pasar. Dengan ekosistem yang lebih tertata, UMKM memperoleh ruang untuk mengembangkan kegiatan usaha, sementara pengemudi memilikikepastian yang lebih baik dalam menjalankan layanan pengantaran.

Aspek perlindungan sosial juga menjadi perhatian pemerintah. Kementerian UMKM berkomitmen mengawal dan memonitor perjanjian kemitraan antara aplikator dan pengemudiuntuk memastikan manfaat perlindungan yang telah diatur benar-benar tersampaikan. Pengawasan tersebut menjadi penting agar regulasi tidak berhenti sebagai aturanadministratif, tetapi dapat memberikan dampak nyata terhadap hubungan kemitraan di lapangan.

Dalam persoalan perpajakan, pemerintah juga memberikan kejelasan bagi pengemudi ojol. Maman menegaskan bahwa pengemudi tidak dikenakan pajak penghasilan apabilapenghasilannya masih berada di bawah batas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). Ketentuan tersebut memberikan kejelasan bagi pengemudi mengenai kewajiban perpajakansekaligus menghindarkan munculnya kekhawatiran yang tidak perlu terhadap aktivitasekonomi mereka.

Penerbitan Perpres Nomor 27 Tahun 2026 memperlihatkan bahwa pemerintah berupayamengikuti perkembangan ekonomi digital melalui kebijakan yang memberikan kepastian bagipara pelakunya. Regulasi yang mencakup kemitraan, perlindungan sosial, transportasi, pengantaran barang dan makanan, serta aspek perpajakan menjadi fondasi untuk membangunekosistem yang lebih tertata.

Keberadaan regulasi tersebut juga menunjukkan pentingnya sinergi pemerintah, DPR, kementerian terkait, perusahaan aplikasi, pengemudi, dan pelaku UMKM dalam menjagakeberlanjutan ekonomi digital. Dengan kepastian hukum dan pengawasan yang berjalan, transformasi digital dapat diarahkan agar tidak hanya memperluas layanan dan aktivitasekonomi, tetapi juga memberikan ruang perlindungan yang lebih jelas bagi masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari ekosistem tersebut. Perpres Ojol menjadi bagian darilangkah pemerintah membangun kemitraan yang lebih transparan, memberikan kepastianbagi pengemudi, sekaligus menjaga keberlangsungan UMKM dalam menghadapiperkembangan ekonomi digital.

*) Pemerhati sosial

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *