Pengelolaan Air Terpadu, Jawaban atas AncamanKekeringan Nasional

Oleh: Satria Putra )* Ancaman kekeringan kembali menjadi perhatian serius seiring meluasnyamusim kemarau di berbagai wilayah Indonesia. Fenomena El Nino yang menguat memperbesar risiko berkurangnya ketersediaan air, mengganggu aktivitas pertanian, hingga meningkatkan potensi kebakaranhutan dan lahan.  Peringatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa musim kemarau terus meluas hingga akhir Juli 2026. Hasil pemantauan Dasarian II Juli mencatat sebanyak 509 Zona Musimatau sekitar 72,8 persen wilayah Indonesia telah memasuki musimkemarau. Pada saat yang sama, curah hujan kategori rendahmendominasi lebih dari 92 persen wilayah, sedangkan wilayah dengancurah hujan tinggi hanya tersisa kurang dari satu persen. Dominasi kondisi kering itu turut tercermin dari sifat hujan yang sebagianbesar berada di bawah kondisi normal. Situasi tersebut menjadi indikatorbahwa tekanan terhadap sumber daya air semakin besar, terutama padadaerah yang selama ini bergantung pada curah hujan untuk memenuhikebutuhan domestik maupun irigasi pertanian. Dampak musim kemarau mulai terlihat di sejumlah daerah. Laporankekeringan muncul di beberapa wilayah Jawa Tengah, sementarakebakaran hutan dan lahan mulai terjadi di Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, serta Sulawesi Selatan. Perkembangan itu memperlihatkan bahwa ancaman kekeringan tidak lagibersifat prediksi, melainkan telah dirasakan secara nyata olehmasyarakat. BMKG juga mengingatkan bahwa berkurangnya ketersediaan air berpotensi memicu berbagai persoalan lanjutan, mulai dari meningkatnyatitik panas hingga risiko kebakaran pada lahan yang mudah terbakar. Meski hujan lebat masih berpeluang terjadi secara lokal akibat dinamikaatmosfer, kondisi tersebut belum cukup untuk mengubah dominasi musimkemarau yang sedang berlangsung. Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum telah menyiapkanberbagai langkah antisipatif dengan mengoptimalkan seluruh infrastrukturpengelolaan air yang telah dibangun. Upaya ini dilakukan agar distribusiair tetap berjalan selama musim kemarau dan mampu memenuhikebutuhan masyarakat di berbagai daerah. Salah satu kekuatan utama yang disiapkan ialah optimalisasi 10.789 sumur bor dengan kapasitas lebih dari 114.000 meter kubik per detik. Keberadaan sumur bor menjadi solusi penting terutama di wilayah yang sulit memperoleh pasokan air permukaan ketika debit sungai mengalamipenurunan akibat musim kemarau berkepanjangan. Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menegaskan bahwapembangunan dan pengelolaan infrastruktur air merupakan fondasipenting dalam menjaga ketahanan pangan nasional.  Menurut Dody, pembangunan bendungan, bendung, embung, hinggawaduk terus dipercepat karena keberadaannya sangat penting dalammenjamin ketersediaan air irigasi, menjaga produktivitas lahan, sertamemastikan pasokan pangan tetap terpelihara meskipun menghadapitantangan musim kemarau maupun perubahan iklim. Selain memperkuat infrastruktur fisik, Kementerian PU jugamengoptimalkan pola operasi bendungan dan jaringan irigasi. Pengaturandistribusi air dilakukan secara lebih efisien agar setiap wilayahmemperoleh pasokan sesuai kebutuhan tanpa menguras cadangan air secara berlebihan. Pengelolaan irigasi yang terencana memiliki arti penting bagi sektorpertanian. Pasokan air yang stabil memungkinkan petani tetap melakukanbudidaya tanaman pada musim kemarau sehingga risiko penurunanproduksi dapat ditekan. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategimenjaga kesinambungan produksi pangan nasional. Pemetaan wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan juga dilakukansebagai dasar penyusunan langkah penanganan yang lebih cepat. Dengan mengetahui daerah-daerah yang memiliki tingkat kerawanantinggi, pemerintah dapat mengerahkan sumber daya secara lebih tepatsasaran sebelum kondisi berkembang menjadi krisis yang lebih luas. Dukungan peralatan lapangan turut dipersiapkan untuk mempercepatrespons ketika terjadi kekurangan air. Kementerian PU telah menyiapkan125 unit mobile pump, 921 pompa alkon, serta 49 mesin bor yang dapatsegera didistribusikan ke wilayah terdampak. Dody Hanggodo menjelaskan secara tidak langsung bahwa seluruhperalatan tersebut dipersiapkan untuk membantu daerah yang mengalamikrisis air bersih maupun kekeringan berkepanjangan. Bersamaan denganitu, pemerintah juga terus meningkatkan edukasi kepada masyarakatmengenai langkah-langkah adaptasi selama musim kemarau agar dampak yang muncul dapat diminimalkan. Koordinasi antara Kementerian Pertanian dan Kementerian PU juga terusdilakukan untuk memastikan sistem pengairan menuju sawah tetapberjalan. Sinergi antarlembaga menjadi penting karena pengelolaansumber daya air membutuhkan keterpaduan mulai dari penyediaaninfrastruktur hingga distribusi air di tingkat lahan. Direktur Jenderal Lahan Irigasi Pertanian Kementerian Pertanian, Hermanto, menyampaikan secara tidak langsung bahwa pihaknya telahmemetakan sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan, terutama di Pulau Jawa dan Sulawesi Selatan. Pemetaan itu menjadidasar penyusunan langkah penanganan yang lebih cepat melaluikoordinasi lintas instansi. Hermanto juga menjelaskan bahwa konsolidasi terus dilakukan agar respons di lapangan dapat berlangsung lebih sigap apabila kekeringansemakin meluas. Pendekatan tersebut menunjukkan pentingnyakesiapsiagaan sebelum kondisi darurat benar-benar terjadi. Penguatan sumur bor, bendungan, dan jaringan irigasi menjadi investasistrategis dalam menghadapi musim kemarau yang semakin dipengaruhiperubahan iklim. Infrastruktur yang dikelola secara optimal tidak hanyamenjaga ketersediaan air bersih, tetapi juga melindungi produktivitaspertanian, memperkuat ketahanan pangan, dan mengurangi dampaksosial maupun ekonomi akibat kekeringan.  Dengan langkah antisipatif yang dilakukan sejak dini, risiko kekeringandapat ditekan sehingga masyarakat memiliki daya tahan yang lebih baikmenghadapi musim kemarau yang terus meluas. *) Peneliti Kebijakan Pembangunan

Read More

Infrastruktur Air Jadi Pilar Ketahanan Nasional HadapiKemarau dan Perubahan Iklim

Oleh: Nabila Pratiwi )* Ketersediaan air menjadi salah satu faktor yang menentukan ketahanansuatu negara ketika menghadapi musim kemarau dan perubahan iklim. Fenomena El Nino yang memengaruhi penurunan curah hujanmemperbesar risiko kekeringan di berbagai daerah sehingga keberadaaninfrastruktur sumber daya air semakin vital.  Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum menempatkanpengelolaan infrastruktur air sebagai langkah strategis untukmengantisipasi dampak musim kemarau. Berbagai upaya dilakukan agar distribusi air tetap berjalan meskipun curah hujan menurun akibatpengaruh El Nino. Pendekatan ini tidak hanya berorientasi padapenanganan jangka pendek, tetapi juga menjadi bagian dari penguatanketahanan air nasional menghadapi perubahan iklim yang semakin nyata. Optimalisasi 10.789 sumur bor dengan kapasitas lebih dari 114 ribu meter kubik per detik menjadi salah satu langkah yang diprioritaskan. Sumur borberperan sebagai sumber pasokan alternatif ketika debit sungai maupuntampungan air permukaan mengalami penurunan. Kehadiran fasilitastersebut sangat membantu daerah yang rentan mengalami kekuranganair, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun aktivitas pertanian. Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menegaskan bahwapembangunan infrastruktur pengelolaan air terus menjadi komitmenpemerintah. Menurutnya, keberadaan bendungan, bendung, embung, danwaduk memiliki fungsi penting dalam mendukung ketersediaan air irigasi, menjaga produktivitas lahan pertanian, serta memastikan pasokanpangan tetap terpelihara meskipun menghadapi tantangan musimkemarau maupun perubahan iklim. Pengelolaan infrastruktur tidak berhenti pada pembangunan fisik. Kementerian PU juga mengatur pola operasi bendungan dan jaringanirigasi agar distribusi air berlangsung lebih efisien. Pengaturan dilakukandengan mempertimbangkan kebutuhan setiap wilayah sehinggapemanfaatan air dapat berlangsung secara seimbang tanpa mengurangicadangan yang tersedia. Persiapan menghadapi kondisi darurat turut diperkuat melalui penyediaanberbagai peralatan pendukung. Kementerian PU telah menyiagakan 125 unit mobile pump, 921 pompa alkon, dan 49 mesin bor yang dapat segeradikerahkan ke wilayah yang mengalami krisis air. Kesiapan peralatan itumempercepat respons pemerintah ketika kekeringan mulai menggangguaktivitas masyarakat. Strategi jangka panjang pemerintah juga tercermin dari kapasitasinfrastruktur yang telah tersedia saat ini. Kementerian PU mengelola 240 bendungan dengan kapasitas tampung mencapai 7,89 miliar meter kubik. Selain itu terdapat 601 situ dan danau yang memiliki volume tampungansekitar 135,59 miliar meter kubik serta lebih dari seribu tampungan air baku yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Penguatan ketahanan air juga memperoleh dukungan dari BadanMeteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Lembaga tersebut melaksanakanoperasi modifikasi cuaca sebagai langkah menjaga pasokan air di sejumlah wilayah yang diperkirakan mengalami penurunan curah hujanakibat El Nino. Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menjelaskanbahwa berkurangnya curah hujan dapat mengurangi pasokan air yang masuk ke waduk. Padahal, waduk memiliki fungsi penting sebagaipenyedia air baku, penunjang irigasi pertanian, serta sumber energi bagipembangkit listrik tenaga air.  Pelaksanaan operasi modifikasi cuaca telah dilakukan di sejumlah wilayahstrategis. Tri Handoko Seto menerangkan bahwa kegiatan tersebutdiarahkan pada kawasan tangkapan air yang menopang kebutuhan energidan pertanian, termasuk Danau Toba di Sumatera Utara, Danau Poso di Sulawesi Tengah, serta Daerah Aliran Sungai Citarum di Jawa Barat. Pemanfaatan teknologi modifikasi cuaca juga berperan dalam mitigasikebakaran hutan dan lahan. Berkurangnya hujan menyebabkan lahangambut kehilangan cadangan air sehingga menjadi lebih mudah terbakar. Melalui proses pembasahan kawasan gambut, kelembapan lahan dapatdipertahankan sehingga risiko kebakaran dapat ditekan. Sinergi antarkementerian turut diperkuat melalui program pompanisasiyang dijalankan Kementerian Pertanian. Program ini difokuskan padalahan sawah yang masih memiliki akses terhadap sumber air sepertisungai, embung, waduk, maupun saluran irigasi sehingga air dapatdialirkan menuju area pertanian ketika curah hujan menurun. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menjelaskan bahwapompanisasi merupakan solusi cepat untuk menjaga pasokan air menujusawah selama menghadapi ancaman El Nino. Pemerintah karena itumempercepat distribusi pompa ke berbagai sentra produksi padi agar kegiatan budidaya tetap berlangsung. Pada Tahun Anggaran 2026, Kementerian Pertanian menyiapkan 56 ribuunit pompa air. Sebagian telah disalurkan kepada daerah, sementarasisanya diproses sesuai kebutuhan yang diusulkan pemerintah daerah. Distribusi itu menjadi bagian dari strategi menjaga stabilitas produksipangan nasional selama musim kemarau. Amran juga menilai pengalaman menghadapi El Nino sebelumnyamenunjukkan bahwa keberhasilan mempertahankan produksi pangansangat ditentukan oleh ketersediaan air. Oleh sebab itu, program pompanisasi dipadukan dengan modernisasi pertanian melalui penyalurantraktor, rice transplanter, combine harvester, dan berbagai alat mesinpertanian lainnya untuk meningkatkan efisiensi usaha tani. Kombinasi antara pembangunan bendungan, optimalisasi sumur bor, penguatan jaringan irigasi, operasi modifikasi cuaca, serta program pompanisasi menunjukkan bahwa pemerintah membangun sistempengelolaan air secara terpadu. Pendekatan tersebut tidak hanyamenjawab tantangan musim kemarau saat ini, tetapi juga memperkuatdaya tahan Indonesia menghadapi perubahan iklim pada masa mendatang.  Infrastruktur air pada akhirnya menjadi benteng penting negara dalammenjaga keberlanjutan kehidupan masyarakat, melindungi sektorpertanian, dan memastikan ketahanan pangan tetap terpelihara di tengahdinamika iklim yang semakin kompleks. *) Peneliti Bidang Infrastruktur dan Pembangunan

Read More

Kemerdekaan Ekonomi UMKM Diperkuat lewat KUR Tanpa Agunan Tambahan

Jakarta – Kemerdekaan ekonomi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terus diperkuat melalui kemudahan akses pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menegaskan bahwa pengajuan KUR dengan plafon hingga Rp100 juta tidak dikenakan agunan tambahan. Kebijakan tersebut diharapkan semakin mendorong pelaku UMKM mengembangkan usaha produktif sekaligus memperluas akses pembiayaan…

Read More

HUT Ke-81 RI, Pemerintah Perkuat KUR untuk Dorong UMKM Naik Kelas

Jakarta – Pemerintah terus memperkuat program Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebagai instrumen utama memperluas akses pembiayaan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Memasuki momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia, penguatan KUR diharapkan mampu mendorong semakin banyak UMKM naik kelas, meningkatkan produktivitas usaha, serta memperkuat perekonomian rakyat di berbagai daerah. Deputi Bidang…

Read More

Bebas Agunan Tambahan, KUR UMKM Membuka Jalan Usaha Kecil Naik Kelas

Oleh : Naya Santika Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) telah lama menjadi fondasi utama perekonomian nasional. Ketika berbagai sektor menghadapi tekanan akibat dinamika ekonomi global, UMKM tetap menunjukkan daya tahan yang luar biasa dalam menjaga aktivitas produksi, menyerap tenaga kerja, serta menggerakkan ekonomi hingga ke pelosok daerah. Namun demikian, tantangan klasik berupa keterbatasan akses pembiayaan…

Read More

KUR UMKM Jadi Jalan Kemerdekaan Modal bagi Pelaku Usaha Kecil

Oleh : Antonius Utomo  Di tengah semangat membangun kemandirian ekonomi masyarakat, akses permodalan masih menjadi salah satu kunci utama bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk berkembang. Kehadiran Kredit Usaha Rakyat (KUR) menjadi angin segar sekaligus jalan kemerdekaan modal bagi jutaan pelaku usaha kecil yang ingin memperluas bisnis, meningkatkan produktivitas, serta menciptakan peluang…

Read More

Pemerintah Tidak Beri Toleransi bagi Dapur MBG yang Abaikan Sanitasi

JAKARTA – Pemerintah memperkuat pengawasan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan menetapkan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) sebagai syarat operasional seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, menegaskan bahwa dapur MBG yang belum memiliki SLHS tidak dapat beroperasi setelah tenggat waktu yang telah ditetapkan. Menurutnya, sertifikasi…

Read More

Pemerintah Pertegas SLHS Jadi Syarat Mutlak Operasional Dapur MBG

JAKARTA – Pemerintah memperketat tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan mewajibkan seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Kebijakan yang berlaku mulai 10 Agustus 2026 ini bertujuan memastikan seluruh makanan bagi penerima manfaat memenuhi standar keamanan pangan dan kesehatan. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono,…

Read More

Pemerintah Tepat Jadikan Higiene dan Sanitasi sebagai Syarat Mutlak MBG

Oleh: Aziz Rahman*) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu kebijakan strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia sejak usia dini. Program ini tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan gizi anak-anak, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi yang sehat, produktif, dan mampu bersaing di masa depan. Keberhasilan pembangunan suatu bangsa…

Read More

Ketegasan Soal SLHS Bukti Penting Penguatan Tata Kelola Program MakanBergizi Gratis

Oleh: Hanan Alfawazi*) Keberhasilan sebuah program publik tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran atauluasnya cakupan penerima manfaat, tetapi juga oleh kualitas tata kelola yang menopangnya. Prinsip tersebut menjadi semakin relevan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebuah program yang menyentuh kebutuhan dasarmasyarakat sekaligus berkaitan langsung dengan kesehatan jutaan penerima manfaat. Dalam konteks tersebut, keputusan pemerintah mewajibkan seluruh Satuan PelayananPemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi(SLHS) merupakan langkah penting untuk memperkuat standar pelaksanaan program. Kebijakan yang mulai diterapkan pada 10 Agustus 2026 menandai pergeseran fokuspemerintah dari sekadar memperluas jangkauan program menuju penguatan kualitasimplementasi. Langkah ini menunjukkan bahwa keberhasilan MBG tidak hanya diukurdari banyaknya makanan yang disalurkan, tetapi juga dari jaminan bahwa setiap makanandiproduksi melalui proses yang aman, higienis, dan memenuhi standar kesehatan. Dalam berbagai kesempatan, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryonomenegaskan bahwa SLHS bukan sekadar persyaratan administratif, melainkan instrumenuntuk menjamin keamanan pangan. Menurutnya, pemerintah telah memberikan waktukepada seluruh pengelola dapur MBG untuk memenuhi ketentuan yang berlaku, sehinggapenerapan kebijakan ini merupakan bagian dari proses pembinaan yang telah berjalan. Iajuga menegaskan bahwa dapur yang belum memenuhi persyaratan hingga batas waktuyang ditentukan tidak dapat lagi beroperasi karena standar keamanan pangan tidak dapatdikompromikan. Di sisi lain, Sudaryono memastikan bahwa penegakan aturan tersebut tidak akanmengurangi hak masyarakat sebagai penerima manfaat. Badan Gizi Nasional telahmenyiapkan mekanisme redistribusi layanan melalui dapur lain yang telah memenuhipersyaratan sehingga distribusi makanan tetap berlangsung. Pendekatan inimemperlihatkan bahwa penegakan standar dilakukan bersamaan dengan upaya menjagakeberlanjutan pelayanan publik. Pendekatan tersebut mencerminkan prinsip quality assurance dalam tata kelolapemerintahan. Dalam kebijakan publik, pengawasan tidak hanya bertujuan menemukanpelanggaran, tetapi juga memastikan setiap tahapan pelaksanaan memenuhi standar yang telah ditetapkan. Dengan menjadikan SLHS sebagai syarat operasional, pemerintahmembangun sistem yang lebih preventif dalam meminimalkan risiko keamanan pangandibandingkan hanya mengandalkan penanganan setelah terjadi persoalan. Penguatan tata kelola MBG juga memperoleh dukungan dari Kementerian KoordinatorBidang Pangan. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menilai bahwaprogram yang menjangkau jutaan penerima manfaat memerlukan standar operasionalyang seragam di seluruh daerah. Menurutnya, keamanan pangan harus menjadi fondasiutama pelaksanaan MBG sehingga seluruh proses penyediaan makanan dapatdipertanggungjawabkan kepada masyarakat. Zulkifli juga menekankan pentingnya koordinasi antara Badan Gizi Nasional, pemerintahdaerah, dinas kesehatan, dan berbagai kementerian terkait agar proses sertifikasi maupunpengawasan berjalan lebih efektif. Sinergi antarlembaga menjadi faktor penting karenaimplementasi MBG melibatkan rantai pelaksanaan yang panjang, mulai dari penyediaanbahan baku, proses memasak, distribusi, hingga penyajian makanan kepada penerimamanfaat. Dari perspektif kebijakan publik, penguatan koordinasi tersebut merupakan langkah yang relevan mengingat keamanan pangan merupakan isu lintas sektor. Sertifikasi higiene dan sanitasi tidak hanya berkaitan dengan aspek kesehatan, tetapi juga menyangkut tata kelolalingkungan, kualitas infrastruktur dapur, kompetensi sumber daya manusia, hinggaefektivitas sistem pengawasan. Oleh karena itu, keberhasilan implementasi SLHS membutuhkan kolaborasi yang konsisten antarinstansi, bukan hanya pengawasan darisatu lembaga. Dalam beberapa waktu terakhir, pemerintah juga terus melakukan evaluasi terhadappenyelenggaraan MBG di berbagai daerah. Langkah tersebut mencakup pembinaanterhadap pengelola SPPG, peningkatan inspeksi lapangan, penyempurnaan standaroperasional, hingga penguatan sistem pengendalian mutu. Evaluasi yang dilakukan secaraberkala menjadi bagian penting dari siklus kebijakan agar berbagai temuan di lapangandapat segera ditindaklanjuti melalui perbaikan yang terukur. Tantangan implementasi tentu masih ada. Tidak semua daerah memiliki kesiapaninfrastruktur yang sama, sementara proses pemenuhan persyaratan sertifikasimembutuhkan waktu, sumber daya, dan pendampingan teknis. Karena itu, efektivitaskebijakan tidak hanya ditentukan oleh ketegasan penerapan aturan, tetapi juga oleh kemampuan pemerintah memberikan asistensi kepada pengelola dapur agar mampumemenuhi standar yang ditetapkan. Pendekatan yang mengombinasikan pembinaan dan penegakan aturan akan lebih mendorong kepatuhan dibandingkan pendekatan yang hanyabersifat represif. Dalam jangka panjang, penerapan SLHS berpotensi memberikan manfaat yang lebih luasdaripada sekadar memenuhi persyaratan operasional. Standar yang lebih baik akanmeningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap Program Makan Bergizi Gratis, memperkuat budaya keamanan pangan di tingkat penyelenggara, serta mendorongterciptanya sistem pelayanan publik yang semakin profesional dan akuntabel. Kewajiban Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) menunjukkan bahwa keberhasilansuatu kebijakan publik tidak hanya diukur dari luasnya cakupan penerima manfaat, tetapijuga dari kualitas pelaksanaannya. Dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG), kebijakan ini mencerminkan upaya pemerintah memastikan akses terhadap makananbergizi berjalan sesuai standar keamanan pangan. Pengawasan yang konsisten, pembinaan terhadap penyelenggara, serta sinergi antarpemangku kepentingan menjadifondasi tata kelola yang profesional dan akuntabel.  . *) Penulis merupakan Pengamat Sosial

Read More