RUU Perampasan Aset Tak Hanya Sasar Koruptor tetapi Juga Bandar Narkoba dan Teroris

Oleh: Rizky Kurniawan Rancangan Undang-Undang Perampasan Aset kembali menjadi sorotan setelah DPR dan Komisi Pemberantasan Korupsi menegaskan bahwa aturan ini akan menjangkau lebih dari sekadar pelaku korupsi. Selain koruptor, RUU tersebut dirancang untuk menyasar bandar narkoba, jaringan teroris, hingga pelaku penipuan investasi, sejalan dengan praktik yang lebih dulu diterapkan di sejumlah negara maju. Ketua Komisi III…

Read More

RUU Perampasan Aset Dinilai Penting untuk Kejar Harta Hasil Korupsi

Oleh: Yoga Prasetya Upaya memperkuat pemberantasan korupsi tidak cukup hanya dengan menjatuhkan hukuman pidana kepada pelakunya. Negara juga dituntut mampu mengejar, menyita, dan mengembalikan harta yang diperoleh dari hasil kejahatan agar tindak pidana korupsi benar-benar kehilangan manfaat ekonominya. Dalam konteks itulah pembahasan Rancangan Undang-Undang atau RUU Perampasan Aset menjadi salah satu agenda legislasi yang dinilai penting…

Read More

Aset Hasil Korupsi Harus Kembali kepada Negara melalui RUU Perampasan Aset

Jakarta – Negara diminta memastikan aset hasil tindak pidana korupsi kembali menjadi milik negara melalui mekanisme perampasan yang tengah dirumuskan dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset. Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menyatakan bahwa aset milik para koruptor akan tetap menjadi target utama dalam beleid tersebut, kendati naskah rancangan yang ada sekarang masih terus…

Read More

RUU Perampasan Aset Perkuat Komitmen Pemerintah Berantas Korupsi

Jakarta – Komisi III DPR RI menegaskan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset nantinya tidak hanya menyasar tindak pidana korupsi, melainkan juga sejumlah kejahatan lain, mengacu pada praktik di berbagai negara yang telah lebih dulu menerapkan aturan dengan cakupan lebih luas. Ketua Komisi III DPR Habiburokhman mengungkapkan bahwa di berbagai negara, aturan perampasan aset lazimnya tidak…

Read More

Dukungan terhadap MBG, Harapan Publik atas Perbaikan Gizi

Oleh : Radjiman Arif*) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) semakin menunjukkan posisinya sebagai salah satu kebijakan sosial strategis pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Program ini membawa agenda memperbaiki gizi, mencegah stunting, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, sekaligus menggerakkan ekonomi desa. Karena itu, dukungan terhadap keberlanjutan MBG mencerminkan harapan publik agar negara terus memperkuat investasi bagi generasi…

Read More

MBG Punya Tempat Kuat di Hati Rakyat 

Oleh : Catur Ronggo*) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak lagi semata-mata dipandang sebagai program pemerintah yang berjalan dari pusat ke daerah. Dalam perkembangannya, program ini mulai membentuk keterlibatan sosial dan ekonomi yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Dukungan terhadap keberlanjutan MBG menjadi gambaran bahwa manfaat program telah menjangkau lebih luas, penerima makanan hingga petani, nelayan,…

Read More

MBG Tempati Posisi Teratas Program Pemerintah yang Disukai Masyarakat

Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menempati posisi teratas sebagai program pemerintah yang paling disukai masyarakat berdasarkan hasil survei Media Survei Nasional (Median). Hasil survei menunjukkan MBG dan Sekolah Rakyat menjadi dua program pemerintah yang paling mendapat apresiasi masyarakat. Direktur Eksekutif Median Rico Marbun menjelaskan, survei dilaksanakan di 38 provinsi menggunakan metode wawancara tatap…

Read More

Publik Pilih MBG sebagai Program Pemerintah Paling Favorit

Jakarta, – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi program pemerintah yang paling banyak dipilih masyarakat berdasarkan hasil survei Media Survei Nasional (Median). Program tersebut menempati posisi teratas dibandingkan sejumlah kebijakan pemerintah lainnya yang turut menjadi objek pengukuran dalam survei. Direktur Eksekutif Median Rico Marbun menjelaskan, survei dilakukan di 38 provinsi di Indonesia dengan metode wawancara…

Read More

Memutus Karhutla dari Hulu dengan Data dan Teknologi

Oleh: Ricky Rinaldi*) Komitmen pemerintah dalam menjaga kelestarian ekosistem hutan dan lahan basahnasional memasuki babak baru yang semakin terukur. Kebakaran Hutan dan Lahan(Karhutla) tidak lagi semata dipandang sebagai persoalan musiman yang ditanganisetelah kabut asap muncul, tetapi dicegah sejak dari hulu. Perubahan paradigma inimenempatkan pengawasan berbasis data, kecerdasan buatan, teknologi satelit, serta respons cepat sebagai instrumen penting untuk melindungi lingkungansekaligus menjamin hak masyarakat atas udara yang bersih dan sehat. Kebakaran tidak hanya menimbulkan kerusakan ekologis, tetapi juga berdampakterhadap kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, transportasi, pendidikan, sertakualitas udara. Karena itu, penanganan Karhutla membutuhkan pendekatan yang tidak berhenti pada pemadaman, melainkan memastikan sumber persoalan dapatdiantisipasi sebelum berkembang menjadi bencana. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan kementeriannya terus memperketatpengawasan kawasan hutan melalui integrasi sistem pemantauan satelitpenginderaan jauh yang beroperasi secara berkelanjutan. Teknologi tersebutmemungkinkan pemerintah mendeteksi anomali suhu dan titik panas di kawasangambut, hutan, maupun area konsesi perkebunan. Dengan sistem pemantauan yang semakin presisi, potensi kebakaran dapat diketahui lebih dini sehingga langkahpencegahan dapat dilakukan sebelum api meluas. Pengawasan tersebut juga harus berjalan beriringan dengan penegakan hukum. Pemerintah perlu memberikan sanksi tegas terhadap pihak yang terbukti lalaimaupun sengaja melakukan pembakaran lahan. Sanksi administratif, pencabutanizin pemanfaatan kawasan hutan, hingga proses hukum menjadi instrumen pentinguntuk memastikan kepatuhan. Ketegasan tersebut sekaligus memberikan pesanbahwa kegiatan ekonomi dan investasi harus berjalan dengan tetap memperhatikankeselamatan masyarakat serta kelestarian lingkungan. Pencegahan dari hulu juga diarahkan pada restorasi hidrologis ekosistem gambut. Menjaga tinggi muka air tanah menjadi salah satu indikator penting untukmemastikan kawasan gambut tetap memiliki kelembapan yang cukup dan tidakmudah terbakar. Pemanfaatan sensor kelembapan tanah dan pusat komando data memungkinkan potensi kekeringan di kawasan rawan diidentifikasi lebih awal. Ketika kondisi gambut mulai mengering, pembasahan ulang melalui sekat kanal dan langkah teknis lainnya dapat segera dilakukan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa penanganan Karhutla harus dimulai jauhsebelum api terlihat. Pemerintah perlu memahami karakteristik setiap kawasanrawan, memantau perubahan kondisi lingkungan, dan memastikan pemegang izinmenjalankan kewajibannya. Selain teknologi dan penegakan hukum, keterlibatan masyarakat menjadi bagianpenting dalam memutus rantai Karhutla. Edukasi publik, program perhutanan sosial, serta bantuan sarana pertanian tanpa bakar perlu terus diperluas. Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan harus memperoleh pengetahuan sekaligus alternatifpengelolaan lahan yang aman dan produktif. Penguatan pencegahan juga harus berjalan beriringan dengan kesiapanoperasional. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Suharyantomengatakan teknologi modifikasi cuaca berbasis analisis kondisi atmosfer terusdimanfaatkan untuk mendukung upaya pencegahan, terutama ketika memasukiperiode kemarau. Data hasil pemantauan kemudian dapat diteruskan kepada satuan tugas di lapanganyang melibatkan TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, dan masyarakat peduli api. Dukungan drone dengan kamera pendeteksi panas memungkinkan petugasmemperoleh gambaran kondisi lapangan secara lebih cepat dan akurat. Ketika titikapi terdeteksi, tim dapat segera diarahkan menuju lokasi sehingga kebakaran dapatditangani sebelum meluas atau merambat ke lapisan bawah gambut. Kecepatan respons sangat penting karena kebakaran di lahan gambut memilikikarakteristik khusus. Api dapat menjalar di bawah permukaan dan sulit terlihatsecara langsung. Karena itu, kesiapan pompa air, selang pemadam, kendaraanoperasional, sumber air, serta sarana pendukung lainnya harus terus diperkuat, terutama untuk menjangkau kawasan rawa dan wilayah yang sulit diakses. Transformasi dari pola penanganan reaktif menuju pencegahan berbasis data dan teknologi menunjukkan pentingnya tata kelola Karhutla yang semakin adaptif. Integrasi tersebut akan membuat kebijakan lebih cepat, tepat sasaran, dan berbasiskondisi nyata di lapangan. Di sisi lain, dunia usaha memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan kawasankonsesinya bebas dari praktik pembakaran. Korporasi perkebunan dan kehutananperlu memastikan kesiapan sistem pengendalian kebakaran, termasuk menarapantau, sumber air, sarana pemadaman, dan regu tanggap darurat. Langkah ini sekaligus memperkuat ketahanan Indonesia menghadapi perubahaniklim. Kondisi cuaca ekstrem dan musim kering yang lebih panjang dapatmeningkatkan kerentanan kawasan hutan dan gambut. Karena itu, sistemperingatan dini harus terus diperbarui agar pemerintah dan masyarakat memilikiwaktu untuk melakukan tindakan pencegahan sebelum risiko berkembang menjadibencana besar. Pada akhirnya, memutus Karhutla dari hulu membutuhkan keterpaduan antarateknologi, penegakan hukum, restorasi ekosistem, kesiapan operasional, dunia usaha, dan partisipasi masyarakat. Pemerintah perlu memastikan seluruh instrumentersebut berjalan dalam satu sistem yang konsisten dan berkelanjutan. Dengan pendekatan preventif berbasis data dan teknologi, Indonesia dapatmemperkuat kemampuan menghadapi ancaman Karhutla sekaligus menjagakeberlanjutan ekosistem. Upaya tersebut bukan sekadar tentang memadamkan api, tetapi tentang melindungi hutan, menjaga kualitas udara, mempertahankanproduktivitas ekonomi, dan memastikan kekayaan alam Nusantara tetap lestari bagigenerasi mendatang. Kehadiran negara yang kuat di hulu akan menjadi kunci agar Karhutla tidak terus berulang sebagai bencana musiman, melainkan dapat dicegahmelalui tata kelola lingkungan yang modern, terpadu, dan berkelanjutan. *)Pengamat Isu Strategis

Read More

Penegakan Hukum Karhutla Tegas, Pembakar Lahan Tidak Lagi Berlindung

Oleh : Abdul Razak)* Pemerintah memperkuat koordinasi dan kesiapsiagaan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berpotensi meningkat seiring menguatnya fenomena El Nino. Penguatan Satuan Tugas (Satgas) Karhutla tidak hanya diarahkan untuk mencegah meluasnya titik api, tetapi juga memastikan keselamatan personel di lapangan serta keberlangsungan layanan dasar masyarakat di tengah kondisi cuaca yang semakin panas dan…

Read More