Oleh: Yusuf Rinaldi)* Setiap memasuki bulan suci Ramadan dan menjelang Idulfitri, pemerintahmemastikan stabilitas harga dan ketersediaan pangan nasional tetap terjaga melaluilangkah pengawasan yang aktif dan terukur. Peningkatan aktivitas konsumsimasyarakat dipandang sebagai momentum positif yang mencerminkan perputaranekonomi yang dinamis. Dalam kerangka tersebut, inspeksi mendadak (sidak) menjadi instrumen strategis untuk memperkuat tata kelola pangan, memastikandistribusi berjalan lancar, serta menjaga keterjangkauan harga bahan pokok. Kehadiran langsung pemerintah di lapangan menegaskan komitmen kuat dalammelindungi kepentingan masyarakat, memperkuat transparansi rantai pasok, sertamembangun kepercayaan publik terhadap sistem pangan nasional yang tangguhdan responsif. Langkah tersebut terlihat nyata ketika Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional (Bapanas), Sarwo Edhy, turun langsung melakukan pemantauan di Pasar Jonggol, yang selama ini dikenal sebagai pasar penyangga bagi wilayah Bogor, Bekasi, hingga Jakarta. Kehadiran pejabat tinggi di titik distribusi akhir menunjukkan bahwapemerintah mengedepankan pengawasan berbasis kondisi riil lapangan. SarwoEdhy menegaskan bahwa selama Ramadan pemerintah tidak boleh lengah dan harus memastikan harga tetap terkendali serta distribusi berjalan lancar. Jika ditemukan ketidaksesuaian, langkah pembenahan akan segera dilakukan di lokasi. Hasil pemantauan memperlihatkan mayoritas komoditas pangan strategis beradadalam kondisi relatif stabil. Harga beras medium lokal berada di kisaran Rp13.000 per kilogram dan beras premium Rp14.500 per kilogram. Bawang merah tercatatRp40.000 per kilogram dan bawang putih Rp36.000 per kilogram. Untuk komoditasprotein hewani, daging ayam ras berada di kisaran Rp40.000–42.000 per kilogram, telur ayam Rp30.000–32.000 per kilogram, daging sapi lokal Rp130.000–140.000 per kilogram, serta daging sapi impor sekitar Rp120.000 per kilogram. Gula kemasan dijual Rp19.000 per kilogram dan gula curah Rp18.000 per kilogram. Stabilitas ini menunjukkan bahwa sistem pasokan dan distribusi berjalan cukupefektif dalam merespons lonjakan permintaan Ramadan. Di tingkat pedagang, kondisi pasokan yang lancar menjadi faktor kunci. Sejumlahpedagang menyampaikan bahwa harga relatif terjaga karena pasokan diperolehlangsung dari sumber terdekat, seperti rumah potong hewan di sekitar pasar. Dari sisi konsumen, harga yang masih terjangkau memberikan rasa tenang dalammemenuhi kebutuhan berbuka dan sahur bersama keluarga. Stabilitas harga di pasar tradisional juga menjadi indikator bahwa intervensi pemerintah tidak hanyaberdampak pada data statistik, tetapi benar-benar dirasakan oleh masyarakat. Meski demikian, pemerintah tetap memberi perhatian khusus pada komoditas yang masih menunjukkan deviasi harga, seperti minyak goreng rakyat Minyakita. Di beberapa titik, harga ditemukan berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp15.700 per liter, bahkan mencapai Rp18.000–18.500 per liter. Sarwo Edhymenjelaskan bahwa kenaikan tersebut dipicu oleh harga di tingkat distributor yang sudah berada di atas Rp17.000…