Oleh : Yohanes Wandikbo )* Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusiasekaligus menentukan kemampuan sebuah daerah untuk berkembang secara berkelanjutan. Dalam konteks Papua, pemerataan akses pendidikan memiliki arti strategis karena tantangangeografis, keterbatasan infrastruktur, serta kondisi sosial ekonomi masih memengaruhikesempatan anak-anak memperoleh pendidikan berkualitas. Karena itu, kehadiran SekolahRakyat menjadi bagian penting dari langkah pemerintah memperluas kesempatan belajarhingga wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar. Di Papua, pembangunan Sekolah Rakyat terintegrasi direalisasikan di Kota Jayapura, Kabupaten Sarmi, dan Kabupaten Biak Numfor. Kementerian Pekerjaan Umum mulaimengerjakan pembangunan sejak Juli 2026 dan menargetkan penyelesaian pada Maret 2027. Pemerintah mengalokasikan sekitar Rp1 triliun dari APBN untuk pembangunan tiga sekolahtersebut. Setiap Sekolah Rakyat dirancang memiliki kapasitas hingga 1.260 peserta didiksehingga total daya tampung mencapai 3.780 siswa. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menempatkan pendidikan sebagai fondasi peningkatan kualitas kehidupanmasyarakat. Menurutnya, negara perlu hadir ketika keterbatasan ekonomi keluarga berpotensimenghambat anak mendapatkan pendidikan. Pandangan tersebut memperlihatkan bahwaSekolah Rakyat diarahkan untuk membuka kesempatan yang lebih luas bagi kelompokmasyarakat yang membutuhkan dukungan. Pola pendidikan terintegrasi membuat Sekolah Rakyat memiliki fungsi lebih luasdibandingkan sekolah konvensional. Fasilitas yang disiapkan mencakup gedung pendidikan, asrama siswa, rumah susun guru, kantin, gedung serbaguna, tempat ibadah, fasilitas olahraga, serta berbagai bangunan pendukung. Kelengkapan tersebut dapat menciptakan lingkunganpendidikan yang memungkinkan proses pembelajaran berlangsung secara lebih terpadu. Wakil Menteri Pekerjaan Umum Diana Kusumastuti menjelaskan bahwa tiga Sekolah Rakyat di Papua dirancang untuk menampung hingga 1.260 peserta didik di masing-masing lokasi. Kapasitas tersebut menunjukkan skala intervensi pemerintah dalam memperluas aksespendidikan sekaligus memberikan ruang yang memadai bagi anak-anak Papua untukmendapatkan layanan pendidikan secara berkelanjutan. Pembangunan Sekolah Rakyat juga tidak hanya berlangsung di tiga wilayah tersebut. Pemerintah daerah di Papua Pegunungan, Papua Barat Daya, dan sejumlah daerah lainnyaturut mempersiapkan lahan serta berbagai dokumen pendukung. Perkembangan inimenunjukkan bahwa kebijakan pendidikan tersebut berjalan melalui sinergi antarapemerintah pusat dan pemerintah daerah. Di Papua Pegunungan, misalnya, proses penyediaan kepastian hukum lahan telah memasukitahap penting. Kantor Pertanahan Kabupaten Jayawijaya menyerahkan sertifikat tanah untukpembangunan dan operasional Sekolah Rakyat kepada Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan. Kepala Dinas Sosial Provinsi Papua Pegunungan Yanius Telenggen menilaisertifikat tersebut menjadi dasar legalitas yang diperlukan untuk mendukung keberlanjutanpembangunan dan operasional Sekolah Rakyat di wilayah tersebut. Kepastian lahan merupakan aspek penting dalam pembangunan fasilitas publik. Dengan legalitas yang jelas, proses pembangunan dapat dilakukan dengan landasan hukum yang kuatsekaligus mengurangi potensi persoalan administratif pada masa mendatang. Dalam konteksPapua, penyelesaian aspek pertanahan juga menjadi bagian dari upaya memastikan program pendidikan berjalan sesuai perencanaan. Kesiapan serupa terlihat di Kabupaten Maybrat. Pemerintah daerah telah menyiapkan lahansekitar 10 hektare di Kampung Fategomi, Distrik Aitinyo Utara, lengkap dengan dokumenpertanahan yang diperlukan. Bupati Maybrat Karel Murafer menjelaskan bahwa lahantersebut telah melalui proses pembebasan, pengukuran, dan sertifikasi. Sekolah Rakyat…