Waspadai Provokasi dan Disinformasi di Tengah Dinamika Aksi BEM UI

Oleh : Bambang Setiawan )*

Momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia semestinya menjadi ruang untukmemperkuat persatuan, menjaga ketertiban, dan merawat optimisme masyarakat. Di tengahdinamika penyampaian aspirasi mahasiswa, perhatian publik perlu diarahkan pada pentingnya memastikan setiap aksi berlangsung secara damai serta tidak dimanfaatkansebagai ruang penyebaran provokasi, disinformasi, maupun tindakan anarkis.

Penyampaian pendapat merupakan bagian penting dari kehidupan demokrasi. Mahasiswamemiliki hak untuk menyampaikan kritik dan aspirasi terhadap kebijakan publik. Namun, kebebasan tersebut perlu diiringi tanggung jawab untuk menjaga ketertiban sertamenghormati hak masyarakat lain. Aspirasi yang disampaikan secara damai dan berdasarkanfakta justru dapat memperkuat kualitas demokrasi.

Persoalan muncul ketika informasi yang menyertai sebuah aksi tidak sesuai dengan fakta. Di era media sosial, sebuah video lama dapat dengan mudah diedarkan kembali dengan narasiseolah-olah menggambarkan kejadian terbaru. Kondisi semacam ini berpotensi membentukpersepsi keliru, meningkatkan keresahan, dan memperbesar ketegangan di tengahmasyarakat.

Kepala Staf Kepresidenan Indonesia Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman mengingatkan masyarakat dan mahasiswa agar tidak mudah mempercayai informasi yang beredar di media sosial. Ia menyoroti penggunaan kembali dokumentasi lama yang kemudiandiberi narasi seolah-olah berkaitan dengan demonstrasi terbaru. Menurutnya, masyarakatperlu melakukan pemeriksaan terhadap sumber dan konteks informasi sebelummenyebarkannya.

Penggunaan ulang video lama dengan narasi yang berbeda menunjukkan bahwa masyarakatperlu semakin kritis dalam menerima informasi digital. Sebuah konten visual tidak selalumenggambarkan peristiwa yang sedang terjadi. Karena itu, tanggal kejadian, lokasi, sumberinformasi, dan konteks video perlu diperiksa terlebih dahulu sebelum informasi tersebutdipercaya atau disebarluaskan.

Kewaspadaan terhadap disinformasi menjadi semakin penting karena informasi palsu tidakhanya memengaruhi persepsi terhadap sebuah aksi, tetapi juga dapat memicu keresahanmasyarakat. Narasi yang tidak akurat dapat membuat publik menilai suatu keadaan secaraberlebihan dan mengabaikan kondisi sebenarnya di lapangan. Karena itu, masyarakat perlumembiasakan diri memeriksa informasi secara menyeluruh sebelum mengambil kesimpulan.

Pengamat intelijen Wawan Purwanto menilai dinamika demonstrasi perlu dicermati, terutamaapabila terdapat indikasi adanya gerakan massa yang terorganisasi dan membawakepentingan politik tertentu. Ia berpandangan bahwa pemerintah memiliki kepentingan untukmelakukan pemetaan terhadap aktor serta pola yang muncul dalam berbagai aksi guna memastikan setiap potensi gangguan dapat diantisipasi secara proporsional.

Namun, kewaspadaan tersebut tidak semestinya dimaknai sebagai upaya membatasikebebasan menyampaikan pendapat. Pemerintah tetap perlu menjamin ruang demokrasi dan memastikan kritik terhadap kebijakan publik dapat disampaikan secara aman. Di sisi lain, peserta aksi juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga agar kegiatan tidak berubahmenjadi tindakan kekerasan atau mengganggu masyarakat yang tidak terlibat.

Pendekatan yang mengedepankan dialog menjadi penting dalam situasi seperti ini. Pemerintah dapat mendengar aspirasi mahasiswa melalui berbagai kanal yang tersedia, sementara mahasiswa dapat menyampaikan kritik berdasarkan data dan argumentasi. Dengandemikian, perbedaan pandangan tidak harus berakhir dalam pertentangan yang menggangguketertiban umum.

Pada momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI, seluruh elemen masyarakat juga memilikikepentingan untuk menjaga suasana tetap kondusif. Perayaan kemerdekaan merupakanmomentum bersama yang melibatkan masyarakat dari berbagai latar belakang. Karena itu, setiap kegiatan di ruang publik perlu mempertimbangkan kepentingan warga lain, termasukkelancaran transportasi, kegiatan ekonomi, dan aktivitas masyarakat.

Tantangan lain muncul dari cepatnya penyebaran konten provokatif melalui media sosial. Masyarakat tidak seharusnya menjadi penyebar informasi yang belum terverifikasi hanyakarena konten tersebut memiliki judul atau visual yang menggugah emosi. Menahan diriuntuk tidak menyebarkan informasi yang belum jelas merupakan bentuk tanggung jawabsederhana yang dapat membantu menjaga situasi tetap tenang.

Pada saat yang sama, tindakan anarkis tidak dapat dibenarkan sebagai cara menyampaikanaspirasi. Perusakan fasilitas umum, kekerasan, maupun tindakan yang membahayakan wargajustru berpotensi menghilangkan substansi tuntutan yang hendak disampaikan. Kritik yang kuat tidak membutuhkan kekerasan untuk mendapatkan perhatian publik.

Pesan untuk menjaga persatuan juga menjadi relevan dalam menghadapi dinamika aksi. Perbedaan pendapat merupakan bagian dari demokrasi, sedangkan persatuan merupakanfondasi kehidupan berbangsa. Keduanya dapat berjalan bersama apabila setiap pihak mampumenempatkan kebebasan dalam koridor tanggung jawab.

Pemerintah, mahasiswa, aparat keamanan, media massa, dan masyarakat memiliki peranmasing-masing dalam menjaga ruang publik tetap sehat. Pemerintah perlu memastikanpenanganan aksi dilakukan secara proporsional dan komunikatif. Mahasiswa perlu menjagapenyampaian aspirasi tetap damai, sementara masyarakat dan media perlu memastikaninformasi yang beredar telah melalui proses verifikasi.

HUT ke-81 Kemerdekaan RI seharusnya menjadi momentum menunjukkan kematangandemokrasi Indonesia. Kritik tetap diperlukan, tetapi provokasi tidak boleh dibiarkanmenguasai ruang publik. Aspirasi mahasiswa tetap perlu didengar, sementara disinformasidan tindakan anarkis harus ditolak bersama karena berpotensi merugikan masyarakat luas.

Pada akhirnya, menjaga kemerdekaan bukan hanya mengenai bagaimana masyarakat bebasmenyampaikan pendapat, tetapi juga bagaimana kebebasan tersebut digunakan secarabertanggung jawab. Dengan menolak provokasi, memeriksa kebenaran informasi, menghindari tindakan anarkis, dan mengutamakan dialog, dinamika demokrasi dapatberlangsung secara sehat sekaligus menjaga suasana bulan kemerdekaan tetap aman, tertib, dan penuh semangat persatuan.

)* Penulis merupakan Pengamat Kebijakan Publik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *